| Ilustrasi Benih Cinta Terlarang: Mas Rahmat dan Roro Oyi |
Kisah Roro Oyi (atau Rara Oyi) adalah salah satu tragedi paling kelam, romantis, sekaligus politis dalam sejarah Jawa. Peristiwa ini terjadi pada abad ke-17 di bawah bayang-bayang kekuasaan Sultan Amangkurat I (memerintah 1646–1677), penguasa Kesultanan Mataram Islam yang dikenal bertangan besi.
Kisah ini bukan sekadar cinta segitiga biasa, melainkan
cerminan dari benturan antara absolutisme kekuasaan seorang raja, pemberontakan
darah muda, dan nasib tragis seorang perempuan yang dijadikan bidak catur
politik.
Latar Belakang:Amangkurat I dan Pencarian Cantrik Ayu
Setelah wafatnya Sultan Agung yang agung dan karismatik,
takhta Mataram jatuh ke tangan putranya, Raden Mas Sayidin, yang menyandang
gelar Amangkurat I. Berbeda dengan ayahnya yang ekspansif dan merangkul para
ulama serta sentana (kerabat) kraton, Amangkurat I memerintah dengan paranoia
yang tinggi. Ia melancarkan aksi pembersihan terhadap siapa saja yang dianggap
berpotensi merongrong kewibawaannya.
Di tengah situasi politik Kraton Plered yang tegang dan
dingin, Amangkurat I dundung duka yang mendalam setelah mangkatnya permaisuri
yang paling dicintainya, Ratu Malang. Guna mengobati lara hatinya, sang sultan
memerintahkan para punggawa kraton untuk mencari gadis tercantik di seluruh
pelosok negeri yang kelak akan dijadikan permaisuri baru.
Tugas berat ini jatuh kepada dua menteri kepercayaannya,
yaitu Nayapatra dan Yudaprasanta. Mereka menjelajahi desa demi
desa, menyeberangi sungai, hingga akhirnya sampai di wilayah Kali Jaran (daerah
aliran Sungai Brantas, Jawa Timur). Di sanalah mereka menemukan sebongkah
permata yang tersembunyi: seorang gadis kecil bernama Roro Oyi.
Roro Oyi adalah putri dari Ki Mangunjaya, seorang dalang
atau sesepuh setempat. Kecantikannya di masa belia digambarkan bagai bulan
purnama yang baru terbit—memikat siapapun yang memandang. Nayapatra dan
Yudaprasanta tahu bahwa pencarian mereka telah usai. Roro Oyi diboyong ke pusat
Mataram. Namun, karena usianya yang masih teramat belia (belum menginjak
kedewasaan), Amangkurat I memerintahkan agar Roro Oyi "dipingit" dan
dititipkan kepada Mantri Anom Wirareja untuk diasuh dan dididik tata
krama kraton hingga siap dinikahi.
Benih CintaTerlarang: Mas Rahmat dan Roro Oyi
Tahun-tahun berlalu, Roro Oyi tumbuh menjadi dara yang elok
rupanya, anggun perilakunya, dan matang pesonanya. Keberadaannya di kediaman
Wirareja yang legendaris itu lambat laun terdengar oleh Pangeran Adipati
Anom (Raden Mas Rahmat), putra mahkota Mataram yang kelak bergelar
Amangkurat II.
Hubungan antara Amangkurat I dan Adipati Anom sendiri
sebenarnya sudah lama renggang. Sang Adipati merasa posisinya sebagai putra
mahkota selalu terancam oleh tirani ayahnya, sementara Amangkurat I mencurigai
ambisi putranya sendiri.
Suatu hari, entah sengaja atau tidak, Adipati Anom melihat
Roro Oyi di kediaman Wirareja. Detik itu juga, sang pangeran jatuh hati
sedalam-dalamnya. Bagai tersambar petir di siang bolong, Adipati Anom didera
asmara yang menggebu-gebu. Ia tidak tahu—atau mungkin menutup mata—bahwa gadis
yang dicintainya adalah calon ibu tirinya, perempuan yang telah ditandai
sebagai milik mutlak penguasa tertinggi Mataram.
Cinta Adipati Anom bukan sekadar gejolak sesaat. Ia jatuh
sakit, mengurung diri, dan menolak makan. Kondisinya yang memprihatinkan ini
membuat kakek dari pihak ibunya, Pangeran Pekik (mantan penguasa
Surabaya yang dihormati di Mataram), merasa iba sekaligus khawatir akan
keselamatan sang cucu.
Nekat MelawanTitah Raja: Pernikahan di Bawah Tangan
Melihat cucunya yang merana layaknya orang yang hampir gila
karena cinta, Pangeran Pekik mengambil langkah yang teramat berani—dan kelak
terbukti fatal. Beliau mendatangi rumah Wirareja dan, dengan otoritasnya
sebagai sesepuh agung, meminta agar Roro Oyi diserahkan kepada Adipati Anom.
Wirareja berada dalam posisi buah simalakama. Menolak
Pangeran Pekik berarti durhaka kepada sesepuh, menerima berarti mengkhianati
amanat Sultan. Namun, di bawah tekanan tekad bulat Pangeran Pekik, Roro Oyi
akhirnya dibawa keluar dari pingitan.
Tanpa membuang waktu, Pangeran Pekik segera menikahkan Raden
Mas Rahmat (Adipati Anom) dengan Roro Oyi secara rahasia. Bagi Adipati Anom,
malam-malam bersama Roro Oyi adalah puncak kebahagiaan. Namun, bagi Mataram,
pernikahan itu adalah pemantik bom waktu yang siap meledak.
Murka Sang Tirang:Tragedi di Penghujung Asmara
Warta tentang dilarikannya Roro Oyi dan pernikahannya dengan
Adipati Anom akhirnya sampai ke telinga Amangkurat I. Mendengar bahwa haknya
dirampas, harga dirinya diinjak-injak, dan pelakunya adalah darah dagingnya
sendiri yang dibantu oleh Pangeran Pekik, murka Amangkurat I tak terbendung
lagi. Baginya, ini bukan sekadar masalah wanita, melainkan sebuah pembangkangan
politik (makar) terhadap takhta.
Amangkurat I langsung menjatuhkan hukuman mati tanpa ampun
kepada:
- Pangeran
Pekik beserta seluruh keluarga dan pengikutnya.
- Mantri
Wirareja beserta keluarganya karena dianggap lalai menjaga titipan
raja.
Sementara itu, Adipati Anom dan Roro Oyi ditangkap dan
dihadapkan langsung di depan persidangan agung Amangkurat I. Sang Sultan
memberikan sebuah pilihan yang sangat kejam kepada putranya sebagai ujian
kesetiaan dan penebusan dosa:
"Jika engkau ingin ampunan dariku dan tetap ingin
menjadi putra mahkota Mataram, hunuskan keris itu, dan bunuhlah istrimu dengan
tanganmu sendiri. Jika tidak, engkau akan dihukum mati bersamanya."
| Ilustrasi Adipati Anom menusukkan keris Kyai Belabar ke dada istri tercintanya |
Di hadapan sang ayah yang dingin dan kejam, serta kepungan para prajurit, Adipati Anom didera ketakutan yang luar biasa. Jiwa mudanya goyah antara cinta sejati dan kelangsungan hidup serta takhta masa depan.
Roro Oyi, yang menyadari bahwa tiada lagi jalan keluar dari
labirin takdir ini, memandang suaminya dengan tatapan pasrah dan penuh cinta.
Dalam beberapa babad digambarkan, Roro Oyi sendiri yang merelakan dadanya
ditembus mata keris demi keselamatan pria yang dicintainya. Dengan tangan
bergetar dan air mata yang bercucuran, Adipati Anom menusukkan keris Kyai
Belabar ke dada istri tercintanya. Roro Oyi roboh, bersimpah darah, dan
mengembuskan napas terakhir di pangkuan sang pangeran.
Dampak Penutup dan
Makna Sejarah
Kematian Roro Oyi membawa duka dan trauma mendalam bagi
Raden Mas Rahmat. Konon, setelah peristiwa itu, ia diasingkan sementara dari
kraton, dan kebenciannya kepada ayahnya, Amangkurat I, kian membara hingga ke
sumsum tulang.
Kelak, dendam pribadi ini bertransformasi menjadi kalkulasi
politik. Adipati Anom secara sembunyi-sembunyi menyokong pendanaan Pemberontakan
Trunajaya (seorang pangeran dari Madura) untuk meruntuhkan kekuasaan
ayahnya sendiri. Pemberontakan itulah yang pada akhirnya menghancurkan Kraton
Plered dan memaksa Amangkurat I lari terunta-unta hingga tewas dalam pelarian
di Tegalarum pada tahun 1677.
Makna dan Literasi Filosofis
Kisah Roro Oyi bukan sekadar roman picisan, melainkan narasi yang kaya akan kritik sosial dan politik pada zamannya:
- Tragedi
Perempuan sebagai Komoditas Zaman Feodal: Kisah ini menunjukkan betapa
rentannya posisi perempuan pada masa itu. Roro Oyi tidak pernah memiliki
hak atas tubuh, cinta, dan jalan hidupnya sendiri. Ia diperebutkan bagai
barang rampasan dan dihancurkan ketika ego lelaki di puncak kekuasaan
saling berbenturan.
- Hukum
Sebab-Akibat Kekuasaan (Karma): Kekejaman Amangkurat I dalam
mengeksekusi Roro Oyi dan Pangeran Pekik menanam benih kehancuran bagi
dirinya sendiri. Tindakannya melahirkan musuh dalam selimut (anaknya
sendiri) yang mengakhiri kejayaan Mataram Islam periode Plered.
- Rapuhnya Cinta di Hadapan Kekuasaan: Adipati Anom yang awalnya menggebu-gebu, pada akhirnya terpaksa tunduk dan mengorbankan cintanya demi mempertahankan hidup dan status politiknya. Sebuah refleksi antropologis yang memperlihatkan bahwa di bawah tekanan tirani, kemanusiaan sering kali kalah.
Dekonstruksi Nilai Patriarki dan Obyektifikasi Perempuan: Roro Oyi diposisikan tak lebih dari sebuah "komoditas" atau piala. Ia tidak memiliki hak atas tubuh, cinta, maupun jalan hidupnya sendiri. Ia diambil paksa saat kecil, dipingit, diperebutkan, dan akhirnya dibunuh demi menyelamatkan reputasi lelaki.
Tragedi Hubungan Ayah-Anak (Oedipal Conflict): Kisah ini mencerminkan persaingan bawah sadar antara penguasa tua (Amangkurat I) yang enggan kehilangan dominasinya dan penguasa muda (Mas Rahmat) yang merasa tertindas namun berhasrat merebut simbol-simbol kekuasaan ayahnya.
Prahara Politik Mataram: Peristiwa ini menjadi katalisator internal yang memperlemah legitimasi Amangkurat I. Pembunuhan Pangeran Pekik (tokoh berpengaruh dari Surabaya) memicu sakit hati mendalam di kalangan elite Jawa Timur, yang kelak berujung pada dukungan massal terhadap Pemberontakan Trunajaya yang berhasil meruntuhkan keraton Plered (ibu kota Mataram saat itu).
Sumber Sejarah dan Referensi
Kisah tragis ini tercatat dalam beberapa sumber historiografi tradisional (babad) maupun analisis sejarawan modern:
A. Sumber Historiografi Tradisional (Babad)
Babad Tanah Jawi: Sumber utama sejarah Mataram Islam. Di dalam teks ini, kisah Roro Oyi digambarkan secara naratif sebagai bagian dari suksesi dan konflik internal keluarga kraton Mataram pada masa Plered.
Babad Banten / Babad Nitik Sultan Agung: Meskipun fokusnya berbeda, beberapa versi babad lokal yang mencatat dinamika Mataram ikut menyinggung watak keras Amangkurat I dan konflik dengan putranya yang dipicu oleh kasus perempuan.
B. Referensi Sejarawan Modern
H.J. de Graaf (Sejarawan Belanda): Dalam bukunya yang monumental, "Runtuhnya Istana Mataram" (atau De Regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, Vorst van Mataram), De Graaf membedah secara ilmiah dokumen-dokumen VOC (termasuk laporan harian dari Batavia / Dagh-Register) yang mengonfirmasi ketegangan antara Amangkurat I dan Raden Mas Rahmat sekitar tahun 1660-an hingga 1670-an, termasuk eksekusi Pangeran Pekik.
M.C. Ricklefs: Dalam "A History of Modern Indonesia since c. 1200", Ricklefs mencatat bagaimana kebijakan domestik Amangkurat I yang kejam, termasuk intrik-intrik keluarga seperti kisah Roro Oyi, melemahkan struktur politik Mataram dari dalam hingga mudah diguncang pemberontakan.
Peter Carey: Sejarawan yang banyak mengulas budaya Jawa ini sering kali merujuk pada ketegangan psikologis keluarga raja Jawa Tengah Selatan, di mana kisah-kisah tragis seperti Roro Oyi menjadi simbol bagaimana kekuasaan absolut sering kali mengorbankan kemanusiaan.