Welcome

<< Mulai dengan cerita yang menarik>> << SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA >>

Selasa, 02 Juni 2026

Kisah Rara Oyi (Rara Hoyi) masa Amangkurat 1


Ilustrasi Benih Cinta Terlarang: Mas Rahmat dan Roro Oyi


Kisah Roro Oyi (atau Rara Oyi) adalah salah satu tragedi paling kelam, romantis, sekaligus politis dalam sejarah Jawa. Peristiwa ini terjadi pada abad ke-17 di bawah bayang-bayang kekuasaan Sultan Amangkurat I (memerintah 1646–1677), penguasa Kesultanan Mataram Islam yang dikenal bertangan besi.

 

Kisah ini bukan sekadar cinta segitiga biasa, melainkan cerminan dari benturan antara absolutisme kekuasaan seorang raja, pemberontakan darah muda, dan nasib tragis seorang perempuan yang dijadikan bidak catur politik.


 

Latar Belakang:Amangkurat I dan Pencarian Cantrik Ayu

Setelah wafatnya Sultan Agung yang agung dan karismatik, takhta Mataram jatuh ke tangan putranya, Raden Mas Sayidin, yang menyandang gelar Amangkurat I. Berbeda dengan ayahnya yang ekspansif dan merangkul para ulama serta sentana (kerabat) kraton, Amangkurat I memerintah dengan paranoia yang tinggi. Ia melancarkan aksi pembersihan terhadap siapa saja yang dianggap berpotensi merongrong kewibawaannya.

Di tengah situasi politik Kraton Plered yang tegang dan dingin, Amangkurat I dundung duka yang mendalam setelah mangkatnya permaisuri yang paling dicintainya, Ratu Malang. Guna mengobati lara hatinya, sang sultan memerintahkan para punggawa kraton untuk mencari gadis tercantik di seluruh pelosok negeri yang kelak akan dijadikan permaisuri baru.

Tugas berat ini jatuh kepada dua menteri kepercayaannya, yaitu Nayapatra dan Yudaprasanta. Mereka menjelajahi desa demi desa, menyeberangi sungai, hingga akhirnya sampai di wilayah Kali Jaran (daerah aliran Sungai Brantas, Jawa Timur). Di sanalah mereka menemukan sebongkah permata yang tersembunyi: seorang gadis kecil bernama Roro Oyi.

Roro Oyi adalah putri dari Ki Mangunjaya, seorang dalang atau sesepuh setempat. Kecantikannya di masa belia digambarkan bagai bulan purnama yang baru terbit—memikat siapapun yang memandang. Nayapatra dan Yudaprasanta tahu bahwa pencarian mereka telah usai. Roro Oyi diboyong ke pusat Mataram. Namun, karena usianya yang masih teramat belia (belum menginjak kedewasaan), Amangkurat I memerintahkan agar Roro Oyi "dipingit" dan dititipkan kepada Mantri Anom Wirareja untuk diasuh dan dididik tata krama kraton hingga siap dinikahi.

 

Benih CintaTerlarang: Mas Rahmat dan Roro Oyi

Tahun-tahun berlalu, Roro Oyi tumbuh menjadi dara yang elok rupanya, anggun perilakunya, dan matang pesonanya. Keberadaannya di kediaman Wirareja yang legendaris itu lambat laun terdengar oleh Pangeran Adipati Anom (Raden Mas Rahmat), putra mahkota Mataram yang kelak bergelar Amangkurat II.

Hubungan antara Amangkurat I dan Adipati Anom sendiri sebenarnya sudah lama renggang. Sang Adipati merasa posisinya sebagai putra mahkota selalu terancam oleh tirani ayahnya, sementara Amangkurat I mencurigai ambisi putranya sendiri.

Suatu hari, entah sengaja atau tidak, Adipati Anom melihat Roro Oyi di kediaman Wirareja. Detik itu juga, sang pangeran jatuh hati sedalam-dalamnya. Bagai tersambar petir di siang bolong, Adipati Anom didera asmara yang menggebu-gebu. Ia tidak tahu—atau mungkin menutup mata—bahwa gadis yang dicintainya adalah calon ibu tirinya, perempuan yang telah ditandai sebagai milik mutlak penguasa tertinggi Mataram.

Cinta Adipati Anom bukan sekadar gejolak sesaat. Ia jatuh sakit, mengurung diri, dan menolak makan. Kondisinya yang memprihatinkan ini membuat kakek dari pihak ibunya, Pangeran Pekik (mantan penguasa Surabaya yang dihormati di Mataram), merasa iba sekaligus khawatir akan keselamatan sang cucu.

 

Nekat MelawanTitah Raja: Pernikahan di Bawah Tangan

Melihat cucunya yang merana layaknya orang yang hampir gila karena cinta, Pangeran Pekik mengambil langkah yang teramat berani—dan kelak terbukti fatal. Beliau mendatangi rumah Wirareja dan, dengan otoritasnya sebagai sesepuh agung, meminta agar Roro Oyi diserahkan kepada Adipati Anom.

 

Wirareja berada dalam posisi buah simalakama. Menolak Pangeran Pekik berarti durhaka kepada sesepuh, menerima berarti mengkhianati amanat Sultan. Namun, di bawah tekanan tekad bulat Pangeran Pekik, Roro Oyi akhirnya dibawa keluar dari pingitan.

Tanpa membuang waktu, Pangeran Pekik segera menikahkan Raden Mas Rahmat (Adipati Anom) dengan Roro Oyi secara rahasia. Bagi Adipati Anom, malam-malam bersama Roro Oyi adalah puncak kebahagiaan. Namun, bagi Mataram, pernikahan itu adalah pemantik bom waktu yang siap meledak.

 

Murka Sang Tirang:Tragedi di Penghujung Asmara

Warta tentang dilarikannya Roro Oyi dan pernikahannya dengan Adipati Anom akhirnya sampai ke telinga Amangkurat I. Mendengar bahwa haknya dirampas, harga dirinya diinjak-injak, dan pelakunya adalah darah dagingnya sendiri yang dibantu oleh Pangeran Pekik, murka Amangkurat I tak terbendung lagi. Baginya, ini bukan sekadar masalah wanita, melainkan sebuah pembangkangan politik (makar) terhadap takhta.

Amangkurat I langsung menjatuhkan hukuman mati tanpa ampun kepada:

 

  • Pangeran Pekik beserta seluruh keluarga dan pengikutnya.
  • Mantri Wirareja beserta keluarganya karena dianggap lalai menjaga titipan raja.

 

Sementara itu, Adipati Anom dan Roro Oyi ditangkap dan dihadapkan langsung di depan persidangan agung Amangkurat I. Sang Sultan memberikan sebuah pilihan yang sangat kejam kepada putranya sebagai ujian kesetiaan dan penebusan dosa:

"Jika engkau ingin ampunan dariku dan tetap ingin menjadi putra mahkota Mataram, hunuskan keris itu, dan bunuhlah istrimu dengan tanganmu sendiri. Jika tidak, engkau akan dihukum mati bersamanya."

 


Ilustrasi Adipati Anom menusukkan keris Kyai Belabar ke dada istri tercintanya



Di hadapan sang ayah yang dingin dan kejam, serta kepungan para prajurit, Adipati Anom didera ketakutan yang luar biasa. Jiwa mudanya goyah antara cinta sejati dan kelangsungan hidup serta takhta masa depan.

Roro Oyi, yang menyadari bahwa tiada lagi jalan keluar dari labirin takdir ini, memandang suaminya dengan tatapan pasrah dan penuh cinta. Dalam beberapa babad digambarkan, Roro Oyi sendiri yang merelakan dadanya ditembus mata keris demi keselamatan pria yang dicintainya. Dengan tangan bergetar dan air mata yang bercucuran, Adipati Anom menusukkan keris Kyai Belabar ke dada istri tercintanya. Roro Oyi roboh, bersimpah darah, dan mengembuskan napas terakhir di pangkuan sang pangeran.

 

Dampak Penutup dan Makna Sejarah

Kematian Roro Oyi membawa duka dan trauma mendalam bagi Raden Mas Rahmat. Konon, setelah peristiwa itu, ia diasingkan sementara dari kraton, dan kebenciannya kepada ayahnya, Amangkurat I, kian membara hingga ke sumsum tulang.

Kelak, dendam pribadi ini bertransformasi menjadi kalkulasi politik. Adipati Anom secara sembunyi-sembunyi menyokong pendanaan Pemberontakan Trunajaya (seorang pangeran dari Madura) untuk meruntuhkan kekuasaan ayahnya sendiri. Pemberontakan itulah yang pada akhirnya menghancurkan Kraton Plered dan memaksa Amangkurat I lari terunta-unta hingga tewas dalam pelarian di Tegalarum pada tahun 1677.

 

Makna dan Literasi Filosofis

Kisah Roro Oyi bukan sekadar roman picisan, melainkan narasi yang kaya akan kritik sosial dan politik pada zamannya: 

  • Tragedi Perempuan sebagai Komoditas Zaman Feodal: Kisah ini menunjukkan betapa rentannya posisi perempuan pada masa itu. Roro Oyi tidak pernah memiliki hak atas tubuh, cinta, dan jalan hidupnya sendiri. Ia diperebutkan bagai barang rampasan dan dihancurkan ketika ego lelaki di puncak kekuasaan saling berbenturan.
  • Hukum Sebab-Akibat Kekuasaan (Karma): Kekejaman Amangkurat I dalam mengeksekusi Roro Oyi dan Pangeran Pekik menanam benih kehancuran bagi dirinya sendiri. Tindakannya melahirkan musuh dalam selimut (anaknya sendiri) yang mengakhiri kejayaan Mataram Islam periode Plered.
  • Rapuhnya Cinta di Hadapan Kekuasaan: Adipati Anom yang awalnya menggebu-gebu, pada akhirnya terpaksa tunduk dan mengorbankan cintanya demi mempertahankan hidup dan status politiknya. Sebuah refleksi antropologis yang memperlihatkan bahwa di bawah tekanan tirani, kemanusiaan sering kali kalah.
  • Dekonstruksi Nilai Patriarki dan Obyektifikasi Perempuan: Roro Oyi diposisikan tak lebih dari sebuah "komoditas" atau piala. Ia tidak memiliki hak atas tubuh, cinta, maupun jalan hidupnya sendiri. Ia diambil paksa saat kecil, dipingit, diperebutkan, dan akhirnya dibunuh demi menyelamatkan reputasi lelaki.

  • Tragedi Hubungan Ayah-Anak (Oedipal Conflict): Kisah ini mencerminkan persaingan bawah sadar antara penguasa tua (Amangkurat I) yang enggan kehilangan dominasinya dan penguasa muda (Mas Rahmat) yang merasa tertindas namun berhasrat merebut simbol-simbol kekuasaan ayahnya.

  • Prahara Politik Mataram: Peristiwa ini menjadi katalisator internal yang memperlemah legitimasi Amangkurat I. Pembunuhan Pangeran Pekik (tokoh berpengaruh dari Surabaya) memicu sakit hati mendalam di kalangan elite Jawa Timur, yang kelak berujung pada dukungan massal terhadap Pemberontakan Trunajaya yang berhasil meruntuhkan keraton Plered (ibu kota Mataram saat itu).

Sumber Sejarah dan Referensi

Kisah tragis ini tercatat dalam beberapa sumber historiografi tradisional (babad) maupun analisis sejarawan modern:

A. Sumber Historiografi Tradisional (Babad)

  1. Babad Tanah Jawi: Sumber utama sejarah Mataram Islam. Di dalam teks ini, kisah Roro Oyi digambarkan secara naratif sebagai bagian dari suksesi dan konflik internal keluarga kraton Mataram pada masa Plered.

  2. Babad Banten / Babad Nitik Sultan Agung: Meskipun fokusnya berbeda, beberapa versi babad lokal yang mencatat dinamika Mataram ikut menyinggung watak keras Amangkurat I dan konflik dengan putranya yang dipicu oleh kasus perempuan.

B. Referensi Sejarawan Modern

  1. H.J. de Graaf (Sejarawan Belanda): Dalam bukunya yang monumental, "Runtuhnya Istana Mataram" (atau De Regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, Vorst van Mataram), De Graaf membedah secara ilmiah dokumen-dokumen VOC (termasuk laporan harian dari Batavia / Dagh-Register) yang mengonfirmasi ketegangan antara Amangkurat I dan Raden Mas Rahmat sekitar tahun 1660-an hingga 1670-an, termasuk eksekusi Pangeran Pekik.

  2. M.C. Ricklefs: Dalam "A History of Modern Indonesia since c. 1200", Ricklefs mencatat bagaimana kebijakan domestik Amangkurat I yang kejam, termasuk intrik-intrik keluarga seperti kisah Roro Oyi, melemahkan struktur politik Mataram dari dalam hingga mudah diguncang pemberontakan.

  3. Peter Carey: Sejarawan yang banyak mengulas budaya Jawa ini sering kali merujuk pada ketegangan psikologis keluarga raja Jawa Tengah Selatan, di mana kisah-kisah tragis seperti Roro Oyi menjadi simbol bagaimana kekuasaan absolut sering kali mengorbankan kemanusiaan.

Senin, 01 Juni 2026

Ki Ageng Mangir Wonoboyo

 

Ilustrasi : Ki Ageng Mangir Wonoboyo dan Tombak Baru Kelenting

Kisah Ki Ageng Mangir Wonoboyo adalah salah satu lembaran paling dramatis, kelam, sekaligus sarat makna dalam sejarah peralihan kekuasaan di Jawa tengah-selatan abad ke-16. Ini bukan sekadar cerita tentang pertempuran fisik, melainkan pergulatan batin antara kedaulatan sebuah tanah perdikan (daerah otonom), harga diri seorang kesatria, dan taktik politik makiavelis demi tegaknya sebuah imperium baru bernama Kesultanan Mataram Islam.

 

Fajar di Tanah PerdikanMangir

Kisah ini bermula di sebuah wilayah subur di sebelah barat Sungai Progo (sekarang masuk wilayah Bantul, Yogyakarta). Tanah itu bernama Mangir. Berbeda dengan wilayah sekitarnya yang mulai tunduk di bawah panji-panji Panembahan Senopati (pendiri sekaligus penguasa Mataram Islam), Mangir adalah sebuah Tanah Perdikan—daerah bebas pajak yang memiliki hak otonom penuh sejak zaman Majapahit.

Penguasa wilayah ini adalah Ki Ageng Mangir Wanabaya (sering disebut Ki Ageng Mangir IV). Ia adalah seorang pemuda yang tampan, gagah berani, sakti mandraguna, dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Di tangannya, Mangir tumbuh menjadi daerah yang makmur secara agraris dan mandiri secara politik.

Bagi Ki Ageng Mangir, kemerdekaan tanah leluhurnya adalah harga mati. Ketika Panembahan Senopati mulai memperluas ekspansi dan menuntut seluruh wilayah di sekitarnya untuk tunduk mempersembahkan glondhong pengareng-areng (upeti tanda takluk), Ki Ageng Mangir dengan tegas menolak. Ia merasa Mangir tidak pernah berutang budi maupun sejarah kepada Mataram.

 

Duri dalam Daging Mataram

Penolakan Ki Ageng Mangir menjadi kerikil tajam di sepatu Panembahan Senopati. Bagi Mataram yang sedang membangun legitimasi sebagai penguasa tunggal tanah Jawa, eksistensi Mangir yang merdeka tepat di dekat jantung ibu kota adalah sebuah ancaman sekaligus penghinaan.

Secara militer, Ki Ageng Mangir bukanlah lawan yang mudah. Ia memiliki senjata pusaka legendaris bernama Tombak Baru Klinting, sebuah tombak sakti yang konon auranya saja mampu menggentarkan panggung peperangan. Beberapa kali upaya Mataram untuk menekan Mangir secara fisik selalu menemui jalan buntu. Rakyat Mangir bersumpah setia berdiri di belakang pemimpin muda mereka.

Menyadari bahwa konfrontasi militer terbuka hanya akan memakan banyak korban dan belum tentu membawa kemenangan, Panembahan Senopati mengumpulkan para penasihatnya. Di sinilah peran Ki Juru Martani, sang ahli strategi ulung Mataram, muncul. Ia mengusulkan sebuah taktik kuno yang mematikan: Umpan berpaling, memukul tanpa tangan. Mataram tidak akan menyerang Mangir dengan prajurit, melainkan dengan cinta.

 

Siasat Cegalan danPengorbanan Sang Putri

Mataram memutuskan untuk menggunakan taktik telik sandi (mata-mata) yang dikemas dalam rombongan kesenian tradisional Ledek (ronggeng keliling). Siapa sangka, penari utama dalam rombongan ledek amatir tersebut adalah Putri Pembayun, putri sulung dari Panembahan Senopati sendiri.

Demi kejayaan Mataram, Sang Putri rela melepas atribut bangsawanannya, menyamar sebagai rakyat jelata, dan berkelana dari desa ke desa hingga akhirnya memasuki wilayah Mangir. Siasat ini berjalan sempurna. Kabar tentang kecantikan dan keluwesan penari ledek baru itu segera sampai ke telinga Ki Ageng Mangir.

Ilustrasi : penari utama dalam rombongan ledek amatir tersebut adalah Putri Pembayun


Ketika melihat Pembayun menari, sang penguasa muda langsung terpikat. Kecantikan, keanggunan, dan tutur kata Pembayun yang halus—yang tak mampu disembunyikan sepenuhnya meski dalam balutan pakaian rakyat jelata—meruntuhkan hati Ki Ageng Mangir. Singkat cerita, Ki Ageng Mangir jatuh cinta dan meminang sang penari ledek untuk menjadi istrinya. Pembayun pun menerima pinangan tersebut.

 

Benturan Antara Cinta dan Pengkhianatan

Pernikahan pun terjadi. Di luar dugaan Mataram, strategi ini memicu konflik batin yang luar biasa hebat di dalam diri Putri Pembayun. Seiring berjalannya waktu, ia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Ki Ageng Mangir bukanlah pemberontak kejam seperti yang dicitrakan di Mataram. Mangir adalah pria yang tulus, pemimpin yang adil, dan suami yang sangat mencintai serta menghormatinya.

Putri Pembayun terjebak di antara dua kesetiaan: kesetiaannya sebagai anak dan putri Mataram, serta baktinya sebagai seorang istri dari lelaki yang kini tengah mengandung anaknya.

Ketakutan akan terbongkarnya siasat ini oleh pihak lain, serta rasa bersalah yang teramat besar, akhirnya mendorong Pembayun untuk jujur. Di suatu malam yang sunyi, sambil bersimpuh dan menangis di kaki suaminya, Pembayun membuka jati diri yang sebenarnya:

"Suamiku, aku bukan sekadar penari ledek. Aku adalah Roro Pembayun, putri kandung dari musuh besarmu, Panembahan Senopati dari Mataram."

Mendengar pengakuan itu, petir seakan menyambar dada Ki Ageng Mangir. Amarah, kekecewaan, dan rasa dikhianati berkecamuk. Pusaka Baru Klinting miliknya bergetar. Namun, ketika ia melihat ketulusan di mata istrinya yang sedang mengandung darah dagingnya sendiri, amarah kesatria itu luruh oleh rasa cinta. Ki Ageng Mangir memilih memaafkan istrinya.

Sebagai jalan keluar demi kedamaian dan masa depan anak mereka, Pembayun membujuk Mangir untuk menyudahi permusuhan dan menghadap Panembahan Senopati di Mataram sebagai seorang menantu yang hendak melakukan sungkem (penghormatan).

 

Tragedi di Sela-Sela Sungkem

Dengan niat tulus sebagai menantu, Ki Ageng Mangir akhirnya berangkat ke Mataram didampingi oleh Putri Pembayun dan beberapa pengawal setianya. Kedatangan Ki Ageng Mangir disambut dengan upacara formal di keraton. Namun, Mataram tetaplah Mataram yang penuh dengan perhitungan politis.

Sebelum memasuki ruang utama, adat keraton mewajibkan Ki Ageng Mangir untuk melepaskan semua senjata pusakanya, termasuk Tombak Baru Klinting. Tanpa curiga, demi menghormati mertua dan tata krama, Mangir mematuhinya.

Ketika Ki Ageng Mangir bersujud (sungkem) di hadapan singgasana Panembahan Senopati, kepalanya berada tepat di dekat lutut sang penguasa Mataram. Di titik kulminasi inilah tragedi itu terjadi. Melihat musuh politik terbesarnya kini berada dalam posisi tak berdaya tanpa senjata, Panembahan Senopati tidak menyia-nyiakan kesempatan.


Ilustrasi : Panembahan Senopati membenturkan kepala Ki Ageng Mangir ke watu gilang
(batu landasan singgasana) miliknya.

Dengan gerakan cepat yang tak terduga, Panembahan Senopati membenturkan kepala Ki Ageng Mangir ke watu gilang (batu landasan singgasana) miliknya. Benturan keras itu seketika menewaskan Ki Ageng Mangir di tempat, tepat di hadapan mata Putri Pembayun yang menjerit histeris.

 

Akhir Hayat dan Makna Filosofis yang Tertinggal

Kematian Ki Ageng Mangir menyisakan kedukaan mendalam sekaligus dilema moral yang panjang dalam sejarah Mataram. Guna meredam konflik kemanusiaan dan menghormati statusnya yang mendua—sebagai musuh politik sekaligus menantu sah—jenazah Ki Ageng Mangir dimakamkan dengan cara yang sangat unik di Kotagede.

Makamnya dibuat separuh berada di dalam pagar dalam keraton (pasareyan) dan separuh berada di luar.

  • Bagian tubuh bagian atas (kepala hingga dada) berada di dalam, sebagai simbol bahwa ia adalah bagian dari keluarga raja (menantu).
  • Bagian kaki berada di luar pagar, sebagai simbol bahwa ia sampai akhir hayatnya adalah musuh atau pemberontak bagi kedaulatan Mataram.

 

Kedalaman Makna dari Kisah Mangir:

  • Tragedi Kemanusiaan vs. Kepentingan Negara: Kisah ini menggarisbawahi realitas politik yang dingin. Di atas panggung kekuasaan, hubungan darah, cinta, dan ketulusan sering kali dikorbankan demi apa yang disebut sebagai stabilitas dan ekspansi wilayah.
  • Satyameva Jayate (Kejujuran Pembayun): Pengakuan Pembayun membuktikan bahwa pada akhirnya, ikatan moral spiritual (cinta sejati) mampu mengalahkan doktrin politik (tugas sebagai mata-mata), meskipun akhir ceritanya harus dibayar dengan air mata.
  • Simbol Watu Gilang: Batu gilang di Kotagede yang retak konon menjadi saksi bisu kerasnya benturan fisik dan benturan prinsip antara dua penguasa yang sama-sama bersikukuh pada jalannya masing-masing.

Kisah Ki Ageng Mangir adalah sebuah romansa sekaligus tragedi politik klasik Nusantara yang terus hidup, mengingatkan generasi berikutnya tentang harga sebuah kemerdekaan tanah kelahiran dan betapa mahalnya mahkota sebuah kekuasaan.

 


Sumber dan referensi sejarah tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori:
1. Naskah Historiografi Tradisional
  • Babad Tanah Jawi: Sumber babad klasik ini menyebutkan bahwa Ki Ageng Mangir (bernama asli Bagus Wanabaya atau Ki Ageng Mangir IV) merupakan keturunan Majapahit dari garis Lembu Peteng. Teks ini mencatat konflik wilayahnya dengan Panembahan Senopati dari Mataram. 
  • Babad Mangir: Merupakan karya naratif berakar dari tradisi babad Jawa klasik yang lebih spesifik mengisahkan pasang surut kehidupan, pertahanan wilayah Perdikan Mangir, hingga kisah cintanya dengan putri Panembahan Senopati. 
2. Sastra dan Historiografi Modern
  • Buku Mangir (Pramoedya Ananta Toer, 2000): Karya sastra berbentuk naskah drama ini menjadi salah satu referensi paling populer. Pramoedya menggabungkan fakta sejarah dan imajinasi sastra untuk menggambarkan ketegangan politik, cinta, dan nasionalisme lokal melawan hegemoni Mataram.
3. Bukti Arkeologis dan Situs Sejarah

  • Petilasan Ki Ageng Mangir (Wonoboyo): Terletak di Dusun Mangir, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul. Situs budaya ini dikelola oleh pemerintah setempat dan menjadi bukti fisik jejak Tanah Perdikan Mangir. Informasi selengkapnya mengenai situs ini dapat dilihat melalui portal resmi Jelajah Bantul.
  • Batu Gilang: Artefak sejarah di Dusun Mangir yang konon menjadi alas singgasana atau lokasi penting terkait akhir tragis sang tokoh saat menghadap Panembahan Senopati.