Welcome

<< Mulai dengan cerita yang menarik>> << SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA >>

Minggu, 31 Mei 2026

Aria Penangsang

Ilustrasi


Aria Penangsang (juga dikenal sebagai Ji Pang atau Arya Penangsang) adalah salah satu tokoh paling dramatis dan kontroversial dalam sejarah transisi dari Kesultanan Demak ke Kesultanan Pajang pada abad ke-16. Kisahnya penuh dengan intrik politik, dendam keluarga, dan pertempuran darah yang legendaris.

Berikut adalah jalannya sejarah Aria Penangsang yang dirangkum dalam beberapa babak penting:

1. Asal-Usul dan Benih Dendam

Aria Penangsang adalah putra dari Pangeran Surowiyoto (Raden Kikin), yang merupakan putra dari Raden Patah (Sultan Demak pertama). Hal ini menjadikan Aria Penangsang sebagai cucu langsung dari pendiri Demak.

Tragedi dimulai ketika Sultan Trenggana (saudara tiri Raden Kikin) naik takhta menjadi Sultan Demak ketiga. Raden Kikin sebenarnya memiliki hak atas takhta, namun ia dibunuh oleh sepupunya sendiri, Sunan Prawoto (putra Sultan Trenggana), di tepi sungai setelah pulang shalat Jumat. Sejak peristiwa tragis itu, Raden Kikin dikenal dengan julukan Pangeran Sekar Seda lepèn (Bunga yang Gugur di Sungai).

Aria Penangsang yang saat itu masih muda, tumbuh dewasa di bawah asuhan Sunan Kudus dengan hati yang membara oleh api dendam atas kematian ayahnya. Ia kemudian diangkat menjadi Adipati Jipang Panolan (wilayah sekitar Blora dan Cepu saat ini).

2. Perebutan Takhta Demak dan Balas Dendam

Setelah Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546 saat menyerang Pasuruan, terjadi kekosongan kekuasaan di Demak. Sunan Prawoto naik takhta sebagai Sultan Demak keempat. Namun, pemerintahannya lemah dan tidak stabil.

Aria Penangsang melihat ini sebagai kesempatan emas untuk menuntut balas sekaligus mengambil hak takhta ayahnya. Didukung oleh guru spiritualnya, Sunan Kudus, Aria Penangsang mengirim pembunuh bayaran bernama Rangkud.

  • Kematian Sunan Prawoto: Rangkud berhasil menyusup dan membunuh Sunan Prawoto di istananya.

  • Kematian Pangeran Hadiri: Tidak berhenti di situ, Aria Penangsang juga menyingkirkan para pendukung Demak lainnya, termasuk Pangeran Hadiri (Penguasa Jepara) yang merupakan suami dari Ratu Kalinyamat (putri Sultan Trenggana).

Ratu Kalinyamat yang kehilangan suami dan saudaranya merasa sangat terpukul. Ia kemudian melakukan tapa telanjang (tapa wuda) di Gunung Danaraja, bersumpah tidak akan memakai pakaian sebelum keramas dengan darah Aria Penangsang.

3. Sayembara dan Bangkitnya Jaka Tingkir

Melihat kekejaman Aria Penangsang, menantu Sultan Trenggana yang bernama Jaka Tingkir (Adipati Pajang) mengambil tindakan. Ratu Kalinyamat menjanjikan seluruh wilayah Jepara dan sisa kekuasaan Demak kepada siapa saja yang berhasil membunuh Aria Penangsang. Jaka Tingkir menerima tantangan tersebut, namun ia tahu bahwa menghadapi Aria Penangsang secara langsung sangat berbahaya, karena Penangsang dikenal sakti mandraguna dan memiliki kuda perang legendaris yang agresif bernama Gagak Rimang.

Jaka Tingkir kemudian membuat sayembara tiruan untuk para kesatria Pajang. Sayembara itu dimenangkan oleh dua bersaudara angkat, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, yang dibantu oleh putra Ki Ageng Pemanahan yang masih muda namun sangat cerdas taktik, yaitu Danang Sutawijaya (kelak mendirikan Kesultanan Mataram Islam).

4. Pertempuran di Sungai Bengawan Solo

Pertempuran penentuan terjadi di dekat Sungai Bengawan Solo, yang menjadi batas wilayah Pajang dan Jipang. Strategi cerdik dirancang oleh Ki Ageng Pemanahan memanfaatkan kelemahan emosional Aria Penangsang yang temperamental.

  • Taktik Umpan: Sutawijaya dikirim untuk memancing Aria Penangsang menyeberangi sungai. Sutawijaya menunggangi kuda betina yang sengaja dipotong ekornya agar memicu birahi dan kegilaan Gagak Rimang, kuda jantan milik Aria Penangsang.

  • Melanggar Pantangan: Sunan Kudus sebenarnya sudah memperingatkan Penangsang agar jangan sekali-kali menyeberang sungai terlebih dahulu. Namun, karena terpancing emosinya oleh ejekan pasukan Pajang, Aria Penangsang melanggar pantangan tersebut dan memacu Gagak Rimang menyeberangi Bengawan Solo.

5. Gugurnya sang Adipati Jipang

Di seberang sungai, pertempuran sengit terjadi. Danang Sutawijaya yang dipersenjatai dengan Tombak Kyai Pleret (pusaka Pajang) berhasil menusuk perut Aria Penangsang hingga ususnya terburai.

Di sinilah letak puncak kedigdayaan sekaligus tragedi Aria Penangsang:

Karena kesaktiannya yang luar biasa, Aria Penangsang tidak langsung mati. Ia melingkarkan ususnya yang terburai pada gagang keris pusakanya, Kyai Setan Kober, agar tetap bisa bertempur.

Namun, saat ia berhasil mendesak Sutawijaya dan hendak menghabisinya, Aria Penangsang dengan gagah berani mencabut keris Kyai Setan Kober dari sarungnya. Ia lupa bahwa ususnya dilingkarkan di sana. Begitu keris dicabut, mata keris yang sangat tajam itu langsung memotong ususnya sendiri hingga putus. Aria Penangsang pun gugur di medan laga.

Dampak Sejarah

Kematian Aria Penangsang pada tahun 1549 menandai berakhirnya era Kesultanan Demak secara total. Setelah itu:

  1. Pajang Berdiri: Jaka Tingkir resmi memindahkan pusat kekuasaan ke pedalaman dan mendirikan Kesultanan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.

  2. Lahirnya Mataram Islam: Sebagai hadiah atas keberhasilan membunuh Aria Penangsang, Ki Ageng Pemanahan diberikan hadiah tanah di Hutan Mentaok, yang kelak di tangan Danang Sutawijaya berkembang menjadi Kesultanan Mataram Islam yang agung.

Hingga kini, dalam tradisi pengantin Jawa, ronce bunga melati yang melingkar pada keris pengantin pria disebut sebagai perlambang untuk mengingat usus Aria Penangsang—sebagai pengingat agar kaum pria tidak mudah mengumbar amarah dan nafsu seperti sang Adipati Jipang.



Sumber-sumber utama sejarah Arya Penangsang yang:
  • Babad Tanah Jawi
  • Serat Kandha
  • Cerita Tutur Masyarakat
  • Catatan Portugis (Babad Sejarah Modern)
  • https://www.facebook.com/groups/597697120439262/posts/2717051711837115/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang