https://www.youtube.com/watch?v=Xo8vib9TGyM
I. Identitas
Nama Guru | : | Aprizal | ||
Mata Pelajaran | : | Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) |
| |
Hari/Tanggal | : | Rabu, 4 November 2026 |
| |
Fase/Kelas | : | D / 8D |
| |
Judul Materi | : | Mobilitas Sosial |
| |
II. Capaian & Tujuan Pembelajaran
Ø Capaian Pembelajaran:
Pada akhir Fase D, Peserta didik mampu memahami konsep mobilitas sosial (vertikal/horizontal), faktor pendorong, penghambat, serta dampaknya di masyarakat.
Ø Tujuan Pembelajaran:
Peserta didik dapat menelaah struktur pelapisan sosial serta mengidentifikasi faktor penentu keberhasilan mobilitas vertikal naik (climbing) melalui studi biografi tokoh lokal secara empiris.
III. Pendekatan Pembelajaran (Kurikulum Merdeka)
Ø Mindfull (Berkesadaran): Peserta didik secara kritis, teliti, dan sadar penuh (present & reflective) merefleksikan posisi sosial mereka saat ini dan menyadari potensi diri untuk melakukan mobilitas sosial vertikal naik melalui pendidikan, karakter yang baik, dan kerja keras.
Ø Meaningfull (Bermakna): Pembelajaran dikaitkan langsung dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, sehingga mereka paham pentingnya usaha, ketekunan, dan adaptasi untuk mengubah nasib serta berkontribusi positif bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Ø Joyful (Menyenangkan): Belajar dilakukan melalui aktivitas kolaboratif yang interaktif seperti bermain peran (role-play) profesi cita-cita, bedah biografi tokoh inspiratif lokal secara berkelompok, serta kuis interaktif mengenai faktor mobilitas.
IV. Alur Tujuan Pembelajaran
Pengenalan & Pemahaman | : | Pada tahap ini, peserta didik mampu mengevaluasi konsep dasar mobilitas sosial, membedakan secara kritis antara pergerakan sosial vertikal dan horizontal dalam dinamika masyarakat. |
Pemetaan | : | Peserta didik mampu menganalisis dan mengidentifikasi secara berkesadaran berbagai faktor pendorong dan penghambat mobilitas sosial di lingkungan tempat tinggalnya. |
Penerapan Strategi & Evaluasi | : | Pada tahap akhir, peserta mampu menerapkan strategi pengembangan diri (pendidikan, keahlian) secara sadar untuk merencanakan mobilitas sosial naik (social climbing) di masa depan. |
V. Materi Pembelajaran
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin, wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.
Anak-anakku, sebelum kita membahas tentang Mobilitas Sosial, mari kita renungkan bersama:
1. Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah Pencipta alam semesta beserta segala akal pikiran dan potensi manusia, yang kemudian melahirkan inovasi dan kemampuan manusia untuk terus belajar, beradaptasi, serta mengubah status dan peran sosialnya menjadi lebih baik (mobilitas naik).
2. Al-Malik (Maha Memelihara/Menguasai): Allah SWT adalah Penguasa mutlak yang memelihara segala urusan hamba-Nya. Dalam konteks pelapisan sosial, kita menyadari bahwa jabatan, kekayaan, atau status yang dicapai melalui mobilitas sosial adalah amanah sementara yang harus dipelihara dan digunakan untuk kemaslahatan bersama.
3. Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah SWT menjamin dan memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya melalui berbagai jalan, termasuk melalui ketekunan bersekolah dan bekerja keras yang merupakan saluran utama bagi seseorang untuk mengalami mobilitas sosial secara positif.
Pengantar Materi
Dalam kehidupan bermasyarakat, posisi seseorang tidak selalu tetap. Ada kalanya seseorang yang berasal dari keluarga biasa berhasil menjadi pengusaha sukses, atau sebaliknya. Pergerakan inilah yang disebut dengan mobilitas sosial. Mari pelajari materi ini secara tuntas untuk merencanakan masa depan kalian secara sadar dan bermakna.
A. Pengertian Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari satu lapisan (strata) sosial ke lapisan sosial lainnya, baik ke tingkat yang lebih tinggi, lebih rendah, atau setingkat.
B. Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial
1) Mobilitas Vertikal: Perpindahan status sosial yang tidak sederajat. Dibagi menjadi dua:
a) Social Climbing (Naik): Naiknya status sosial seseorang, misal dari karyawan biasa menjadi manajer.
b) Social Sinking (Turun): Turunnya status sosial, misal dari direktur menjadi pengangguran karena perusahaannya bangkrut.
2) Mobilitas Horizontal: Perpindahan status sosial yang sederajat. Contoh: Seorang guru SMP pindah mengajar ke SMP lain, jabatannya tetap sebagai guru.
C. Faktor Pendorong dan Penghambat
Ø Faktor Pendorong:
ü Struktural: Kesempatan untuk menduduki jabatan tertentu yang terbuka.
ü Individu: Sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
ü Sosial: Ketidakpuasan akan status sosial saat ini.
ü Ekonomi: Keinginan memperbaiki taraf hidup.
ü Pendidikan: Saluran utama (social elevator) untuk mobilitas naik.
Ø Faktor Penghambat:
ü Kemiskinan: Keterbatasan biaya menghambat akses pendidikan dan modal.
ü Diskriminasi: Pembedaan perlakuan karena alasan ras, agama, atau golongan.
Link Video Pembelajaran: https://www.youtube.com/watch?v=F3x9wI3M0E8 (Mengenal Mobilitas Sosial di Indonesia)
VI. Alat Peraga / Media Pembelajaran
· - Video Pembelajaran (Tautan YouTube)
· - PPT Pembelajaran / Canva presentasi / Biografi Tokoh Lokal Inspiratif
· - LCD Proyektor, Laptop, dan Gawai/Smartphone Peserta Didik untuk kuis/game.
VII. Assessment (Penilaian & Refleksi)
Pertanyaan Refleksi Siswa:
1."Menurutmu, apakah pekerjaan atau posisi seseorang di masyarakat bisa berubah sepanjang hidupnya? Mengapa?"
VIII. Kesimpulan Maretri
Mobilitas sosial adalah dinamika pergerakan status sosial dalam masyarakat yang dapat bersifat vertikal (naik/turun) maupun horizontal. Pergerakan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor pendorong seperti pendidikan dan kondisi ekonomi, serta faktor penghambat seperti kemiskinan. Pendidikan yang baik merupakan "social elevator" (eskalator sosial) yang paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan dan mencapai mobilitas vertikal naik.
KESIMPULAN HASIL PEMBELAJARAN
1) Kompetensi yang sudah dikuasai dan yang perlu ditingkatkan:
Kompetensi yang Sudah Dikuasai: Peserta didik Kelas 8 telah menguasai konsep dasar mobilitas sosial, khususnya perubahan status atau kedudukan sosial seseorang dalam masyarakat (baik mobilitas vertikal naik maupun turun). Peserta didik mampu mengidentifikasi saluran-saluran mobilitas sosial secara nyata, seperti melalui jalur pendidikan, penguasaan teknologi digital/kreativitas, kewirausahaan, jaringan pergaulan/organisasi, hingga etika kerja dan kedisiplinan.
Kompetensi yang Perlu Ditingkatkan: Peserta didik perlu ditingkatkan kemampuannya dalam mengaitkan pendapat kontekstual mereka dengan istilah-istilah ilmiah sosiologi secara eksplisit (seperti social climbing, social sinking, mobilitas antargenerasi, dan mobilitas intragenerasi) agar struktur argumentasi yang dibangun memiliki bobot akademis yang lebih kuat.
2) Kesimpulan berupa tingkat pemahaman konsep, hafalan, analisis, hingga evaluasi materi pelajaran:
Tingkat Pemahaman Konsep & Hafalan: Sangat baik. Peserta didik memahami dengan jelas bahwa status sosial sifatnya dinamis (tidak permanen/bawaan lahir semata) dan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal maupun internal.
Tingkat Analisis: Sangat tajam dan kontekstual. Peserta didik mampu menganalisis fenomena mobilitas sosial terkini, seperti pemanfaatan teknologi digital (konten kreator), pengembangan keterampilan baru, hingga dinamika roda kehidupan yang dipengaruhi oleh pilihan hidup dan adaptasi zaman.
Tingkat Evaluasi: Memuaskan. Peserta didik dapat mengevaluasi sebab-akibat dari tindakan seseorang terhadap posisi sosialnya di masyarakat, baik dampak positif dari kerja keras, kejujuran, dan keahlian, maupun dampak negatif akibat ketidakpatuhan atau keterlibatan pada hal-hal buruk.
3) Diamati selama proses pembelajaran berlangsung di kelas:
Selama proses pembelajaran di kelas, peserta didik menunjukkan partisipasi yang sangat aktif, percaya diri, dan responsif dalam mengemukakan sudut pandang mandiri.
Diskusi berlangsung secara hidup dan realistis, di mana peserta didik mampu memberikan contoh-contoh relevan dari lingkungan sekitar maupun perkembangan zaman masa kini.