Idendtitas
|
Nama Guru |
: |
Aprizal |
|
Mata Pelajaran |
: |
Ilmu Pengetahuan Sosial |
|
Hari/Tanggal |
: |
Kamis, 3 September 2026 |
|
Fase/Kelas |
: |
D / 9BA |
|
Judul Materi |
: |
Latihan : Mekanisme Keefektifan Kearifan
Lokal sebagai Benteng Pertahanan Budaya |
|
Pertemuan ke - |
:
|
15 |
|
Capaian Pembelajaran |
: |
Pada akhir Fase D, Peserta didik mampu
mengeksplorasi ragam kearifan lokal di Indonesia sebagai benteng pertahanan
budaya dalam menghadapi arus globalisasi.. |
|
Tujuan Pembelajaran |
: |
Peserta didik dapat merekonstruksi
potensi kearifan lokal daerah sebagai strategi kontekstual (*local wisdom*)
untuk menyaring infiltrasi budaya asing. |
|
ü Mindfull (Berkesadaran) |
: |
Peserta didik mampu menyadari dan
mengamati secara kritis berbagai bentuk infiltrasi atau masuknya budaya asing
di lingkungan sekitar, serta merefleksikan posisi dan pentingnya nilai-nilai
kearifan lokal daerah mereka sebagai identitas diri. |
|
ü Meaningfull (Bermakna) |
: |
Peserta didik mampu menghubungkan dan
merekonstruksi potensi kearifan lokal daerah menjadi strategi kontekstual
yang aplikatif dan fungsional untuk menyaring, menyerap, serta menyikapi
pengaruh budaya asing secara bijak dalam kehidupan sehari-hari. |
|
ü Joyful (Menyenangkan) |
: |
Peserta didik terlibat secara aktif,
antusias, dan kreatif melalui pengalaman belajar berbasis penemuan atau
proyek interaktif (seperti pembuatan media digital, kampanye budaya, atau
pertunjukan seni) dalam mengeksplorasi dan melestarikan kearifan lokal. |
|
AlurnTujuan Pembelajaran |
|
|
|
Eksplorasi dan Identifikasi |
: |
Peserta didik diajak untuk
mengenali dan menggali data terkait objek budaya lokal serta fenomena budaya
luar.. |
|
Analisis dan Kontekstualisasi |
: |
Peserta didik mulai menghubungkan
antara nilai kearifan lokal dengan tantangan budaya asing, serta menganalisis
dampaknya. |
|
Sintesis dan Rekonstruksi |
: |
Peserta
didik mengolah kembali konsep kearifan lokal agar relevan dengan zaman modern
sebagai alat penyaring. |
MATERI
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا
وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa
wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum
biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.
Anak-anakku,
sebelum kita membahas kearifan lokal mari kita renungkan bersama:
·
Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT yang menciptakan alam semesta beserta segala isinya, termasuk
manusia dengan akal budi serta keragaman budaya yang luar biasa.
·
Al-Malik (Maha Memelihara): Allah SWT yang mengatur, menguasai, dan memelihara tatanan alam semesta
serta kehidupan sosial masyarakat.
·
Ar-Razzaq (Maha Pemberi
Rezeki): Allah SWT yang melimpahkan berbagai sumber daya,
kekayaan alam Nusantara, serta inspirasi kearifan hidup bagi umat-Nya.
https://www.youtube.com/watch?v=fDCk4Mx-l5o
- Video Pembelajaran (tertuang dalam link)
- PPT Pembelajaran /CANVA/GAMBAR (sesuai materi)
- LCD, Laptop/Layar PID
ASSESSMENT
1. Berdasarkan
teks materi, jelaskan apa yang dimaksud dengan kearifan lokal dan berikan
argumen mengapa kearifan lokal bukan sekadar tradisi masa lalu yang usang!
2. Masyarakat
Bugis mengenal falsafah Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge.
Analisislah bagaimana ketiga nilai ini dapat menjadi penolak sikap egois dan
pergaulan bebas global!
3. Jelaskan
konsep Tri Hita Karana di Bali dan bagaimana konsep ini dapat
membentengi remaja dari perilaku destruktif terhadap lingkungan maupun sosial!
4. Remaja
pada Fase D (usia 13–15 tahun) berada dalam fase pencarian jati diri (identity
versus role confusion). Mengapa tanpa akar budaya yang kuat, kelompok usia
ini sangat rentan mengalami identity crisis akibat arus globalisasi?
5. Arus
globalisasi tanpa filter sering membawa paham hedonisme dan konsumerisme.
Evaluasilah bagaimana mekanisme kearifan lokal bekerja sebagai saringan moral
yang selektif terhadap paham tersebut!
6. Bagaimana
pemahaman dan kebanggaan terhadap warisan budaya lokal dapat membangun
ketahanan mental (resilience) serta mencegah inferiority complex
pada diri remaja di hadapan budaya asing?
7. Telaahlah
mengapa proses pewarisan kearifan lokal yang melibatkan tradisi keluarga dan
upacara adat mampu menyentuh aspek emosional (affective domain) remaja
secara lebih mendalam!
8. Berdasarkan
konsep internalisasi organik kearifan lokal, rancanglah sebuah bentuk kegiatan
sekolah yang aplikatif untuk menanamkan nilai gotong royong dan kepedulian
sosial bagi siswa Fase D!
9. Mengapa
pewarisan nilai melalui kearifan lokal dinilai lebih efektif dibandingkan
doktrin moral modern yang abstrak di dalam kelas? Analisis perbedaannya
berdasarkan aspek ruang hidup sehari-hari!
10. Di satu
sisi remaja dituntut adaptif terhadap era digital global, namun di sisi lain
harus mempertahankan identitas kultural. Rumuskan strategi komprehensif agar
seorang remaja dapat berjalan di kedua jalur tersebut secara seimbang!
KESIMPULAN MATERI
Kearifan lokal bukanlah tradisi yang mati,
melainkan strategi hidup yang dinamis. Nilai-nilai luhur Nusantara—seperti Sipakatau,
Sipakalebbi, Sipakainge dari Bugis dan Tri Hita Karana dari
Bali—berfungsi aktif sebagai filter moral untuk menolak paham destruktif global
seperti egoisme, hedonisme, konsumerisme, serta perusakan lingkungan. Remaja
usia 13–15 tahun yang berada dalam fase pencarian jati diri sangat rentan
mengalami identity crisis dan inferiority complex akibat imitasi
budaya asing tanpa filter. Akar budaya yang kuat memberikan ketahanan mental (resilience)
dan kebanggaan diri terhadap kepribadian bangsa. Pewarisan nilai melalui
kearifan lokal jauh lebih efektif dibandingkan doktrin moral teoretis yang
abstrak karena dilakukan secara organik melalui ruang hidup sehari-hari
(keluarga, gotong royong, dan tradisi). Hal ini mampu menyentuh ranah afektif (affective
domain) serta membangun kepedulian sosial yang aplikatif bagi siswa. antangan
utama masa kini adalah merumuskan strategi agar generasi muda tetap adaptif dan
melek teknologi global, namun di waktu yang sama tetap berakar kuat pada
identitas kultural bangsanya tanpa kehilangan arah.
KESIMPULAN HASIL PEMBELAJARAN