| Ilustrasi Kisah Sri Tanjung dan Sidapaksa |
Kisah sejarah dan legenda Sri Tanjung dan Sidapaksa—sebuah
narasi agung dari bumi Jawa Timur yang tidak hanya mengisahkan cinta dan
pengkhianatan, tetapi juga menjadi asal-usul filosofis dari nama Kota
Banyuwangi. Kisah ini ditulis secara luas, mendalam, dan terstruktur untuk
meresapi setiap makna di dalamnya.
Latar Belakang dan
Pertemuan di Kerajaan Sindurejo
Pada zaman dahulu, di wilayah Jawa Timur, berdirilah sebuah
kerajaan makmur bernama Sindurejo. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang
raja yang cakap namun memiliki sisi gelap dalam hatinya, bernama Raja
Sulakromo. Di bawah perintahnya, terdapat seorang patih atau kesatria muda
yang sangat setia, tampan, dan gagah berani bernama Raden Sidapaksa.
Sidapaksa adalah teladan seorang abdi. Baginya, perintah
raja adalah titah suci yang wajib dilaksanakan tanpa ragu. Suatu hari,
Sidapaksa diutus untuk menjalankan sebuah tugas ke kediaman seorang petapa suci
bernama Bagawan Tamba Petra. Di padepokan yang tenang dan dipenuhi
kedamaian spiritual inilah, takdir Sidapaksa berubah selamanya.
Di sana, Sidapaksa bertemu dengan cucu sang bagawan, seorang
gadis bernama Sri Tanjung.
| Ilustrasi Pertemuan di Kerajaan Sindurejo |
Sri Tanjung digambarkan sebagai personifikasi kecantikan surgawi dan kesucian budi pekerti. Parasnya elok, tutur katanya lembut, dan hatinya memancarkan kemurnian yang memikat siapa saja yang memandangnya.
Benih-benih cinta tumbuh dengan cepat di antara kedua insan
ini. Dengan restu dari Bagawan Tamba Petra, Raden Sidapaksa menyunting Sri
Tanjung sebagai istrinya. Mereka kemudian kembali ke ibu kota Kerajaan
Sindurejo, membawa kebahagiaan baru dalam mahligai rumah tangga.
Intrik Istana dan
Ujian Kesetiaan
Kebahagiaan pasangan muda ini ternyata mengundang badai.
Ketika Raden Sidapaksa menghadap ke istana untuk melaporkan keberhasilan
tugasnya, ia turut membawa Sri Tanjung. Begitu melihat kecantikan Sri Tanjung,
hati Raja Sulakromo langsung bergejolak oleh nafsu dan amarah dendam—ia
menginginkan wanita itu menjadi miliknya, apa pun taruhannya.
Sebagai seorang penguasa yang licik, Raja Sulakromo tahu ia tidak bisa merebut Sri Tanjung begitu saja selama Sidapaksa berada di sampingnya. Oleh karena itu, ia merancang sebuah rencana jahat untuk menyingkirkan sang patih secara halus.
Raja Sulakromo memanggil Sidapaksa dan memberikan sebuah tugas yang mustahil: melintasi hutan-hutan angker menuju kahyangan untuk membawa pulang obat pusaka atau kain sutra khusus yang dijaga oleh para dewa.
Tugas ini adalah sebuah vonis mati terselubung. Raja
berharap Sidapaksa akan tewas di perjalanan. Namun, didorong oleh rasa setia
yang buta kepada rajanya, Sidapaksa menerima tugas tersebut. Dengan berat hati,
ia berpamitan kepada Sri Tanjung, meninggalkan istrinya yang tercinta tanpa
perlindungan di lingkungan istana yang korup.
Fitnah Keji dan
Api Cemburu
Selama kepergian Sidapaksa, Raja Sulakromo melancarkan
aksinya. Ia mendatangi Sri Tanjung dan mencoba merayu serta memaksa wanita suci
itu untuk menyerahkan kehormatannya. Namun, Sri Tanjung adalah lambang
kesetiaan yang hakiki. Dengan tegas dan berani, ia menolak semua rayuan,
ancaman, dan kekuasaan sang raja demi menjaga kesucian cintanya kepada
Sidapaksa. Raja Sulakromo pulang dengan tangan hampa dan hati yang membara oleh
rasa malu serta dendam.
Waktu berlalu, dan secara mengejutkan, Raden Sidapaksa berhasil kembali dari tugas mautnya dengan selamat berkat ketangguhan dan perlindungan dewa.
Mengetahui kepulangan sang patih, Raja Sulakromo bergerak
cepat sebelum Sri Tanjung sempat menceritakan kebenaran yang terjadi. Sang raja
memanggil Sidapaksa secara rahasia dan membalikkan fakta dengan fitnah yang
sangat keji.
| Ilustrasi Fitnah Keji dan Api Cemburu |
Mendengar ucapan rajanya, Sidapaksa yang lelah secara fisik
dan emosional langsung dirasuki oleh rasa cemburu yang membakar akal sehatnya.
Tanpa menyelidiki lebih lanjut, tanpa mendengarkan suara nuraninya, ia langsung
menemui Sri Tanjung dengan kemarahan yang meluap-luap.
Tragedi di Tepi
Sungai dan Pembuktian Kesucian
Sidapaksa menyeret Sri Tanjung ke tepi sebuah sungai yang
keruh dan berbau busuk di pinggir hutan. Di tempat yang sepi itu, ia menuduh
istrinya telah berzina dan mengkhianati sumpah pernikahan mereka.
Sri Tanjung menangis tersedu-sedu. Ia bersumpah demi langit dan bumi bahwa ia tidak pernah mengkhianati suaminya, bahwa ia tetap suci, dan bahwa semua itu adalah fitnah keji dari Raja Sulakromo. Namun, mata dan hati Sidapaksa telah dibutakan oleh kabut kecemburuan. Ia menghunus kerisnya, siap untuk mengakhiri hidup wanita yang paling dicintainya itu.
Melihat suaminya tidak lagi bisa diyakinkan dengan kata-kata, Sri Tanjung pasrah kepada takdir, namun ia memberikan sebuah sumpah terakhir yang sakral :
"Wahai suamiku, jika engkau tetap tidak
mempercayai kesucianku, hunuskanlah kerismu ke dadaku. Jikalau nanti darahku
mengalir berwarna hitam dan menimbulkan bau yang sangat busuk, maka benarlah
tuduhanmu bahwa aku telah bernoda. Namun, jikalau darahku mengalir bersih dan
dari sungai ini keluar bau yang sangat harum, maka ketahuilah bahwa aku tidak
bersalah, dan diriku suci dari segala fitnah!"
Sesaat setelah sumpah itu diucapkan, Sidapaksa yang dirundung amarah tetap menghujamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Tubuh ringkih itu ambruk, dan darahnya mengalir masuk ke dalam air sungai.
Asal-Usul Nama
Banyuwangi dan Penyesalan Abadi
Keajaiban pun terjadi di luar nalar manusia. Begitu tubuh
Sri Tanjung tenggelam, air sungai yang tadinya keruh dan berbau busuk tiba-tiba
berubah menjadi sangat jernih bagaikan kristal. Bersamaan dengan itu,
merebaklah aroma wewangian yang sangat harum, semerbak memedihkan hati,
memenuhi seluruh hutan tersebut.
Melihat fenomena itu, runtuhlah seluruh dinding keangkuhan dan kemarahan di hati Raden Sidapaksa. Ia tersungkur di tepi sungai, menangis sejadi-jadinya memanggil nama istrinya. Bau harum itu adalah bukti otentik, saksi alam semesta atas kesucian dan kesetiaan Sri Tanjung yang tak ternoda.
Dengan ratap tangis yang membelah sunyi, Sidapaksa
berteriak:
"Banyu... Wangi... Banyu... Wangi!"
(Air yang harum... Air yang harum!)
Sidapaksa menyadari bahwa ia telah menjadi korban fitnah raja yang lalim dan ketidakmampuannya sendiri dalam mempercayai orang yang paling mencintainya. Ia pun menjadi gila karena penyesalan yang mendalam dan menghabiskan sisa hidupnya meratapi kepergian Sri Tanjung di tepi sungai tersebut.
Makna Literasi dan
Filosofi Kisah
Legenda Sri Tanjung dan Sidapaksa bukan sekadar dongeng
pengantar tidur atau cerita asal-usul geografis semata. Di dalamnya terkandung
lapisan makna yang sangat dalam bagi kehidupan manusia:
- Kesucian
dan Integritas (Sri Tanjung): Sri Tanjung adalah simbol dari kebenaran
mutlak dan kesetiaan yang tidak bisa dibeli oleh kekuasaan materi (Raja).
Meskipun fisiknya hancur, kebenarannya tetap abadi dan mewangi sepanjang
zaman.
- Bahaya
Cemburu Kebuta-hatian (Sidapaksa): Sidapaksa adalah representasi dari
manusia yang kehilangan kearifan akibat amarah dan hasutan. Kisah ini
memperingatkan kita pentingnya tabayyun (mencari kejelasan) sebelum
mengambil keputusan besar.
- Karma
Kebohongan (Raja Sulakromo): Meskipun dalam beberapa versi raja tidak
dihukum secara langsung dalam cerita, bau harum sungai menjadi simbol
kekalahan moral sang penguasa di hadapan kebenaran rakyat kecil.
Hingga hari ini, masyarakat Jawa Timur, khususnya di
Kabupaten Banyuwangi, terus merawat ingatan kolektif ini sebagai warisan
budaya yang adiluhung, mengingatkan setiap generasi bahwa kebenaran, pada
akhirnya, akan selalu menemukan jalannya untuk tercium harum ke permukaan.
- Candi Penataran di Blitar, Jawa Timur.
- Candi Surawana di Kediri, Jawa Timur.
- Candi Jabung di Probolinggo, Jawa Timur.
- Baca ulasan mendalam mengenai naskah bersejarah tersebut melalui kajian Lontar Sri Tanjung: Narasi, Simbol, dan Ingatan Budaya.
- Telusuri jurnal akademis yang membahas mitos dan latar belakang wilayahnya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan jurnal Widyaparwa Kemendikbudristek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar