Welcome

<< Mulai dengan cerita yang menarik>> << SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA >>

Rabu, 09 September 2026

Aud D: Peran Lembaga sosial : Aturan adat/agama lokal dalam melindungi kelestarian mata air/hutan

  




Idendtitas

Nama Guru

:

Aprizal

Mata Pelajaran

:

Ilmu Pengetahuan Sosial

Hari/Tanggal

:

Kamis, 9  September  2026

Fase/Kelas

:

D / 8D

Judul Materi

:

Peran Lembaga sosial : Aturan adat/agama lokal dalam melindungi kelestarian mata air/hutan.

Pertemuan ke -

:

17

 

Capaian Pembelajaran

:

Pada akhir Fase D, Peserta didik mampu menjelaskan Peran lembaga keluarga, agama, ekonomi, pendidikan, dan politik dalam mengatur pemanfaatan potensi wilayah.

 

Tujuan Pembelajaran

:

Peserta didik dapat menghubungkan Aturan adat/agama lokal dalam melindungi kelestarian mata air/hutan.

 

ü Mindfull (Berkesadaran)

:

Peserta didik secara berkesadaran melakukan refleksi singkat atau teknik stop-sejenak (hening) untuk merasakan pentingnya air dan udara bersih sebelum menganalisis aturan adat/agama.

 

ü Meaningfull (Bermakna)

:

Peserta didik secara bermakna tidak sekadar menghafal aturan adat, tetapi mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari (misal: pentingnya menjaga mata air agar pasokan air bersih di lingkungan mereka tetap terjaga).

 

ü Joyful

(Menyenangkan)

:

Peserta didik secara menyenangkan dilakukan melalui gim kelompok, pembuatan peta konsep kreatif, atau gallery walk hasil analisis aturan adat.

AlurnTujuan Pembelajaran

 

 

Tahap 1: Mengidentifikasi dan Memahami (Fase Pengenalan)

:

Pada tahap ini, Peserta didik mampu mengenali dan mengidentifikasi bentuk-bentuk aturan adat atau ajaran agama lokal yang berkaitan dengan pelindungan lingkungan

.

Tahap 2: Menganalisis dan Menghubungkan (Fase Pemahaman Mendalam)

 

:

Peserta didik mampu menganalisis keterkaitan antara nilai-nilai dalam aturan adat/agama lokal dengan upaya pelestarian alam.

Tahap 3: Merefleksikan dan Mengaplikasikan (Fase Penerapan)

:

 Tahap akhir,  Peserta didik mampu menghubungkan dan menyimpulkan relevansi aturan adat/agama lokal tersebut dalam menjawab tantangan krisis lingkungan masa kini.

(Membuat karya tulis ringkas, poster, atau presentasi yang menyimpulkan pentingnya kearifan lokal dalam menjaga kelestarian mata air/hutan di era modern.)

 

 

MATERI

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

 

 Anak-anakku, sebelum kita membahas kearifan lokal mari kita renungkan bersama kebeearan Allah yang terkandung dalam  Asmaul husna ini dengan materi ini :

·         Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Kesadaran bahwa alam diciptakan oleh Sang Khaliq melahirkan aturan adat yang melarang perusakan hutan sembarangan (seperti hutan larangan atau hutan keramat). Masyarakat adat meyakini bahwa merusak hutan sama artinya dengan merusak karya agung Sang Pencipta, sehingga ada tabu atau sanksi adat bagi siapa saja yang mencemari mata air atau menebang pohon di zona sakral.

·         Al-Malik (Maha Memelihara):  Konsep kekuasaan mutlak Al-Malik terefleksi dalam pandangan masyarakat adat bahwa hutan dan sumber air adalah "titipan" yang harus dipelihara, bukan dieksploitasi tanpa batas. Contohnya terlihat dalam tradisi Sasi di Maluku atau perlindungan Ulayat di Minangkabau, di mana pemanfaatan hasil hutan dan mata air diatur secara ketat melalui hukum adat agar kelestariannya tetap terjaga dari generasi ke generasi.

  •  Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Masyarakat lokal menyadari bahwa kelangsungan rezeki mereka sangat bergantung pada kelestarian hutan dan mata air. Oleh karena itu, muncul ritual adat sebagai bentuk syukur sekaligus permohonan kepada Ar-Razzaq (seperti upacara ritual sedekah bumi, nyadran, atau penjagaan mata air dengan pamali/larangan). Aturan ini mengajarkan bahwa menjaga mata air agar tidak kering dan hutan gundul adalah cara mensyukuri rezeki serta memastikan keberlanjutan hidup di masa depan.

Bagi masyarakat modern, alam sering kali dipandang sebagai komoditas ekonomis (sumber kayu, lahan perkebunan, atau tambang). Sebaliknya, bagi masyarakat adat dan pemeluk agama lokal (seperti Sunda Wiwitan, Kejawen, Kaharingan, Marapu, dll), alam memiliki kedudukan yang sakral.

Masyarakat adat menganut prinsip Kosmologi Tradisional, yaitu pandangan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam, bukan penguasanya.

  •         Jika alam rusak, maka manusia akan ikut rusak.
  •          Jika alam lestari, maka manusia akan sejahtera.

Hubungan timbal balik ini melahirkan berbagai aturan adat (norma tidak tertulis) dan ritual keagamaan lokal yang berfungsi menyeimbangkan pemanfaatan serta pelestarian sumber daya alam, khususnya hutan (paru-paru bumi) dan mata air (darah bumi).

 

https://www.youtube.com/watch?v=F2dT6IK7F2A

 

Dalam kajian geografis dan ekologis, hutan dan mata air adalah dua ekosistem yang tidak dapat dipisahkan:

·         Hutan sebagai Spons Raksasa: Akar pepohonan di hutan berfungsi menyerap air hujan, menyimpannya di dalam tanah, dan mencegah terjadinya erosi serta tanah longsor.

·         Mata Air sebagai Urat Nadi: Air tanah yang disimpan oleh hutan akan keluar menjadi mata air. Mata air inilah yang mengalirkan air bersih ke sungai-sungai untuk kebutuhan minum, mencuci, dan irigasi pertanian (seperti sistem sawah).

Jika hutan ditebang, maka fungsi spons akan hilang. Akibatnya, pada musim hujan terjadi banjir, dan pada musim kemarau mata air akan mengering (kekeringan). Oleh karena itu, masyarakat adat memusatkan hukum tertua mereka untuk menjaga kedua wilayah ini.

https://www.youtube.com/watch?v=uEBMCAKEuVA

 

Masyarakat adat umumnya sangat cerdas dalam menata ruang. Mereka membagi hutan menjadi beberapa zona, contohnya pada masyarakat Dayak atau Baduy:

1.       Hutan Titipan / Larangan (Sacred Forest): Kawasan inti yang sama sekali tidak boleh dijamah. Pohon tidak boleh ditebang, satwa tidak boleh diburu. Kawasan ini biasanya terletak di hulu sungai atau puncak gunung tempat mata air berasal.

2.       Hutan Cadangan / Sempadan: Kawasan yang hanya boleh diambil hasilnya (seperti rotan, damar, atau buah) tanpa boleh menggunduli pohonnya.

3.       Hutan Garapan: Kawasan luar yang memang dialokasikan untuk pemukiman dan pertanian/berladang dengan sistem rotasi.

https://www.youtube.com/watch?v=cyF2xgWT37A

 

Sering kali, aturan pelestarian dibungkus dalam bentuk cerita mistis atau larangan gaib (pamali).

Mitos: "Jangan menebang pohon beringin atau pohon lo di dekat sumber air, karena ada penunggunya. Jika ditebang, penunggunya akan marah dan mendatangkan malapetaka."

 Penjelasan Ilmiah (Sains): Pohon beringin (Ficus benjamina) memiliki sistem perakaran yang sangat luas dan dalam. Akar ini berfungsi mengikat air di dalam tanah dengan sangat kuat. Jika pohon ini ditebang, kemampuan tanah menyimpan air hilang, dan mata air di bawahnya pasti akan mati (mengering). Mitos di sini berfungsi sebagai bahasa komunikasi moral yang efektif pada zamannya untuk melindungi ekosistem penting.

 

Hukum adat tidak memiliki penjara, namun sanksinya sangat ditakuti karena memuat beban moral dan sosial:

  • Denda Material: Mengganti pohon yang ditebang dengan menanam bibit baru dalam jumlah berkali-kali lipat, atau membayar denda berupa hewan ternak untuk ritual pembersihan desa.
  • Sanksi Sosial: Dikucilkan oleh masyarakat (diasingkan), yang dalam kehidupan komunal merupakan hukuman yang sangat berat.

 

 ALAT PERAGA/MEDIA PEMBELAJARAN :

  1. Video Pembelajaran (tertuang dalam link)
  2. PPT Pembelajaran /CANVA/GAMBAR (sesuai materi)
  3. LCD, Laptop/Layar PID


ASSESSMENT

1. Berdasarkan prinsip Kosmologi Tradisional, analisislah dampak jangka panjang terhadap ketahanan ekologis (khususnya kelestarian mata air) jika masyarakat adat beralih ke cara pandang modern! Menurut Anda, langkah strategis apa yang bisa diambil oleh lembaga adat untuk mempertahankan zonasi tata ruang hutan tersebut tanpa sepenuhnya menutup diri dari kesejahteraan ekonomi?

    

    Jawaban nya: 

Berdasarkan prinsip Kosmologi Tradisional, peralihan cara pandang masyarakat adat ke modernitas sering kali mengubah hubungan spiritual dan ekologis menjadi hubungan yang murni ekonomis. Dalam kosmologi tradisional (seperti konsep Mantra Buana, Tri Hita Karana, atau sasi), alam—khususnya mata air—dianggap sebagai entitas suci yang hidup (animate nature) yang harus dijaga melalui tabu dan ritual.
Berikut adalah analisis dampak jangka panjang serta langkah strategis yang dapat diambil oleh lembaga adat.
Dampak Jangka Panjang terhadap Ketahanan Mata Air
Ketika masyarakat beralih ke cara pandang modern yang antroposentris dan mekanis, alam dinilai berdasarkan komoditasnya (res extensa). Dampak jangka panjangnya meliputi:
  • Penyusutan Debit dan Kematian Mata Air: Hilangnya status sakral pada hutan tutupan (hutan larangan) membuat vegetasi di sekitar zona tangkapan air ditebang demi komoditas. Tanpa pohon berakar dalam, kemampuan tanah menyimpan air (infiltrasi) menurun drastis.
  • Degradasi Kualitas Air dan Erosi: Alih fungsi lahan memicu erosi sedimen dan pencemaran kimia (dari pupuk atau pestisida pertanian modern) yang langsung merembes ke aliran mata air bawah tanah.
  • Hilangnya Sangsi Sosial dan Moral: Dalam kosmovisi tradisional, merusak mata air dipercaya membawa kutukan atau bencana spiritual (pamali/kuwalat). Cara pandang modern mengikis ketakutan moral ini, sehingga pelanggaran hukum adat dianggap biasa jika keuntungan ekonominya tinggi.         
Langkah Strategis Lembaga Adat
  • Lembaga adat tidak harus menutup diri dari modernitas, melainkan melakukan hibridasi nilai—mengawinkan konservasi spiritual dengan insentif ekonomi modern. Berikut adalah langkah strategisnya:
    1. Kodifikasi Hukum Adat ke dalam Regulasi Modern (Legal Recognition)
    • Transformasi Status: Daftarkan zonasi hutan adat (khususnya zona inti/mata air) ke dalam Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) atau sebagai Hutan Adat Resmi melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
    • Tujuan: Memberikan kekuatan hukum positif (negara) di atas hukum adat agar pihak luar tidak bisa mengeksploitasi lahan secara legal.
    2. Zonasi Berbasis Nilai Manfaat (Ekonomi Berkelanjutan)
    Lembaga adat harus mempertegas batas ruang secara spasial dengan pembagian yang adil:
    • Zona Inti (Sacred Zone/Hutan Larangan): Area sekitar mata air sama sekali tidak boleh disentuh untuk aktivitas ekonomi. Pemanfaatan hanya untuk ritual dan pemenuhan air bersih warga.
    • Zona Penyangga (Buffer Zone): Area transisi yang dikelola dengan sistem Agroforestri Tradisional. Masyarakat menanam pohon buah, kopi, kakao, atau tanaman obat yang menghasilkan uang tanpa harus menebang pohon utama.
    • Zona Pemanfaatan (Economic Zone): Area luar untuk permukiman, pertanian intensif, dan pusat ekonomi.
    3. Implementasi Skema PES (Payment for Ecosystem Services)
    • Mekanisme Imbal Jasa Lingkungan: Lembaga adat dapat membuat kesepakatan dengan pengguna air di hilir (misalnya perusahaan air minum daerah, industri, atau pemerintah kota).
    • Penerapan: Masyarakat hilir membayar "insentif konservasi" kepada masyarakat adat di hulu sebagai imbalan karena telah menjaga kualitas dan kuantitas mata air. Uang ini dikelola oleh lembaga adat untuk kas desa dan kesejahteraan warga.
    4. Pengembangan Ekowisata Berbasis Kosmologi (Cultural Eco-Tourism)
    • Ekonomi Kreatif: Membuka zona penyangga untuk wisata edukasi budaya dan alam terbatas. Wisatawan membayar untuk merasakan pengalaman hidup selaras dengan alam, mengikuti ritual penghormatan air, atau melakukan trekking.
    • Tujuan: Menjadikan kelestarian hutan sebagai daya tarik modal ekonomi, sehingga masyarakat sadar bahwa "pohon yang berdiri jauh lebih menghasilkan uang daripada pohon yang ditebang."
    Melalui strategi ini, kosmologi tradisional direvitalisasi sebagai instrumen perlindungan ekologis modern, sementara kebutuhan ekonomi masyarakat adat tetap terpenuhi secara bermartabat.


KESIMPULAN MATERI

Masyarakat adat memandang alam secara sakral melalui kosmologi tradisional—menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya. Hubungan timbal balik ini diwujudkan melalui zonasi tata ruang hutan (seperti hutan larangan dan cadangan) untuk melindungi hutan (sebagai spons penyerap air) dan mata air (sebagai sumber kehidupan). Kearifan lokal yang sering kali dibungkus dalam bentuk mitos atau pamali sebenarnya memiliki landasan ilmiah yang kuat, serta ditegakkan melalui sanksi moral dan sosial yang efektif menjaga kelestarian lingkungan.


  

KESIMPULAN HASIL PEMBELAJARAN

1) Kompetensi yang Sudah Dikuasai dan yang Perlu Ditingkatkan

  • Kompetensi yang Sudah Dikuasai:

    • Peserta didik mampu menganalisis secara kritis perbedaan antara pandangan kosmologi tradisional (ecocentrism) dan pandangan modern/komersial (anthropocentrism/utilitarian) terhadap pengelolaan alam.

    • Peserta didik mampu menguraikan dampak jangka panjang dari eksploitasi hutan dan kerentanan sumber mata air akibat alih fungsi lahan.

    • Peserta didik berhasil merumuskan solusi kompromistis dan strategis yang diperankan oleh lembaga adat melalui penguatan zonasi hutan (hutan larangan/cadangan) yang dipadukan dengan pengembangan ekonomi berkelanjutan (seperti ekowisata, agroforestri, dan pemanfaatan hasil hutan non-kayu).

  • Kompetensi yang Perlu Ditingkatkan:

    • Keterampilan menyampaikan gagasan dengan sintesis dan variasi bahasa mandiri perlu terus dilatih agar peserta didik terbiasa mengutarakan argumentasi orisinal tanpa terpengaruh pola jawaban rekan sekelasnya.

    • Pemahaman teknis mengenai mekanisme hukum formal dalam pendampingan penetapan status Hutan Adat ke pemerintah masih perlu diperdalam.

2) Tingkat Pemahaman Konsep, Hafalan, Analisis, hingga Evaluasi Materi Pelajaran

  • Tingkat Pemahaman Konsep (Sangat Baik): Peserta didik memahami dengan jernih konsep tata ruang adat (zonasi hutan), fungsi hidro-orologis hutan, serta esensi keseimbangan antara manusia dan ekosistem.

  • Tingkat Hafalan (Baik): Peserta didik mampu mengingat dan menggunakan istilah-istilah kuncinya dengan tepat, seperti ekosentris, antroposentris, zonasi hutan, hasil hutan non-kayu, dan ekowisata.

  • Tingkat Analisis (Tinggi): Peserta didik menunjukkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dalam mengurai rantai sebab-akibat: peralihan pandangan modern - hilangnya nilai sakral/hukum adat - eksploitasi hutan krisis air dan bencana lingkungan.

  • Tingkat Evaluasi (Sangat Memuaskan): Peserta didik mampu menilai dan merekomendasikan strategi terbaik agar pelestarian alam dan kesejahteraan ekonomi masyarakat dapat berjalan selaras tanpa saling mengorbankan.

3) Pengamatan Selama Proses Pembelajaran Berlangsung di Kelas

  • Keaktifan dan Keterlibatan: Selama proses pembelajaran berlangsung, peserta didik kelas 8D menunjukkan antusiasme dan daya kritis yang sangat baik dalam merespons isu-isu lingkungan berbasis tradisi lokal.

  • Dinamika Belajar: Peserta didik mampu mengaitkan teori kosmologi tradisional dengan realita fenomena alam modern (seperti kekeringan dan eksploitasi lahan), yang mencerminkan terbebasnya proses belajar dari sekadar hafalan tekstual menuju pemaknaan materi secara kontekstual dan mendalam.

18 komentar:

Najwa Zevania Aqila k. mengatakan...

nama: najwa zevania aqila k.
kelas : 8d
jawaban : Jika beralih ke cara pandang modern yang hanya mengejar ekonomi, hutan dapat dieksploitasi sehingga mata air berkurang atau tercemar. Lembaga adat dapat mempertahankan zonasi hutan dengan aturan adat, sambil mengembangkan ekonomi berkelanjutan seperti ekowisata dan hasil hutan non-kayu.

ramandaazzahrafadil mengatakan...

nama : ramanda azzahra fadil
kelas:8d
JAWABAN

Berdasarkan prinsip Kosmologi Tradisional, alam dipandang sebagai subjek yang sakral dan hidup (eco-centrism), bukan sekadar komoditas (anthropocentrism).
1. Dampak Jangka Panjang Peralihan ke Cara Pandang ModernJika masyarakat adat beralih ke cara pandang modern yang pragmatis dan eksploitatif, dampak jangka panjang terhadap mata air meliputi:
•Hancurnya Zonasi Sakral: Hutan lindung (seperti Hutan Titipan atau Hutan Larangan) akan dikonversi menjadi lahan monokultur atau industri, yang merusak vegetasi penahan air.
•Krisis Hidrologis: Hilangnya resapan air menyebabkan debit mata air menyusut drastis, memicu kekeringan di musim kemarau, dan banjir di musim hujan.
•Degradasi Spiritual dan Ekologis: Kehilangan ritual adat penjagaan air menghilangkan sanksi sosial, sehingga pembalakan liar dan pencemaran air dianggap hal biasa.

kayla adeayu zevano samsi mengatakan...

nama: kayla adeayu zevano samsi
kelas: 8d
jawaban asesmen:
Dampak: Alih fungsi hutan adat dan kerusakan sumber mata air akibat cara pandang modern yang komersial.
Solusi Lembaga Adat: Mengembangkan ekowisata budaya, memanfaatkan hasil hutan non-kayu (madu/tanaman obat), dan melegalkan status Hutan Adat ke pemerintah.

audrey mengatakan...

nama : audrey radinka sakhi
kelas : 8d
jawaban :
Jika cara pandang modern diterapkan berlebihan, hutan bisa rusak dan mata air berkurang. Lembaga adat perlu menjaga zonasi hutan sambil mengembangkan kegiatan ekonomi yang tetap ramah lingkungan.

Nabila Salwa mengatakan...

nama: nabila salwa
kelas: 8d
jawaban:
Peralihan ke cara pandang modern dapat menyebabkan hutan dan mata air rusak karena eksploitasi berlebihan. Lembaga adat dapat mempertahankan zonasi hutan dengan aturan adat, edukasi lingkungan, serta pemanfaatan hutan secara berkelanjutan agar tetap menjaga alam sekaligus mendukung ekonomi masyarakat.

nama:yoan janeeta kelas:8d hadir buuu mengatakan...

nama:yoan janeeta abdillah
kelas:8d
Lembaga adat dapat mempertahankan zonasi hutan melalui aturan adat, menetapkan kawasan yang tidak boleh dieksploitasi, serta mengizinkan pemanfaatan terbatas seperti agroforestri, ekowisata, dan hasil hutan non-kayu agar kelestarian alam tetap terjaga sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.

Arziki Daffa Pratama mengatakan...

nama:arziki daffa pratama
kelas : 8d
jawaban:
Jika masyarakat adat beralih ke cara pandang modern yang cenderung antroposentris (manusia sebagai penguasa) dan utilitarian (melihat alam hanya sebagai komoditas ekonomi), dampak jangka panjangnya meliputi:Krisis Air Global/Lokal: Mitos perlindungan (seperti larangan menebang pohon beringin) akan dianggap sebagai takhayul yang tidak relevan. Akibatnya, penebangan pohon pelindung air meningkat, kemampuan tanah menyimpan air hilang, dan mata air akan mengering.Kerusakan Ekosistem dan Zonasi Hutan: Hutan larangan dan cadangan terancam dialihfungsikan menjadi area komersial (perkebunan monokultur atau pemukiman). Hal ini menghilangkan fungsi hutan sebagai spons penyerap air dan merusak keanekaragaman hayati.Melemahnya Kontrol Sosial: Hukum adat dan sanksi sosial akan kehilangan legitimasinya karena masyarakat tidak lagi merasa terikat secara moral terhadap kesakralan alam.

alfharis Adi Saputra mengatakan...

nama: alfharis adi saputra
kelas. 8D

Pandangan Kosmologi Tradisional diwujudkan
oleh masyarakat adat melalui zonasi tata ruang hutan, yaitu dengan menetapkan pembagian kawasan seperti hutan larangan dan hutan cadangan. Melalui pembagian ini, manusia diposisikan sebagai bagian dari alam (bukan penguasanya) yang wajib menjaga keseimbangan ekosistem.

Azka Aldric mengatakan...

Nama:Azka aldric wirataama
kelas:8D
Jika beralih ke cara pandang yang hanya mengejar ekonomi, hutan dapat dieksploitasi sehingga mata air berkurang atau tercemar.

anisa maharani mengatakan...

nama: anisa maharani
kelas: 8d
jawaban:

jika masyarakat adat beralih ke cara pandang modern yang cenderung antroposentris(alam hanya dinilai dari manfaat ekonominya)maka hilangnya anggapan sakral pada hutan tutupan memicu penebangan dan alih fungsi lahan,sehingga debit mata air menyusut dan mengering.

Anonim mengatakan...

Jawabannya:

Jika masyarakat adat beralih ke pandangan modern yang hanya mementingkan ekonomi, maka hutan dan mata air dapat mengalami kerusakan karena dieksploitasi secara berlebihan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan berkurangnya sumber air, erosi, banjir, tanah longsor, dan menurunnya kesejahteraan masyarakat.

Strategi yang dapat dilakukan lembaga adat adalah menggabungkan aturan adat dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Misalnya, tetap melindungi hutan dan mata air melalui zonasi serta larangan penebangan di daerah penting, sambil mengembangkan sumber ekonomi yang ramah lingkungan seperti ekowisata, pertanian berkelanjutan, dan pemanfaatan hasil hutan tanpa merusaknya. Dengan begitu, kelestarian alam tetap terjaga dan masyarakat tetap memperoleh kesejahteraan ekonomi.

Anonim mengatakan...

nama: nazla azzahra
kelas: 8d
jawaban assesmen:
Jika masyarakat adat mulai beralih sepenuhnya ke cara pandang modern yang lebih menekan pemanfaatan ekonomis dampaknya berupa
1, berkurangnya kawasan hutan lindung
2, daerah resapan air menurun drastis sehingga air tidak disimpan atau diresap baik di dalam tanah
3, dalam jangka panjang akan terjadi krisis air yang mengganggu kehidupan masyarakat termasuk kebutuhan sehari’ juga pekerjaan seperti petani

Anonim mengatakan...

nama: Bisma alfarizi a.
kelas : 8d
jawaban : Jika beralih ke cara pandang modern yang hanya mengejar ekonomi, hutan dapat dieksploitasi sehingga mata air berkurang atau tercemar. Lembaga adat dapat mempertahankan zonasi hutan dengan aturan adat, sambil mengembangkan ekonomi berkelanjutan seperti ekowisata dan hasil hutan non-kayu

Anonim mengatakan...

nama:ARZIKI GHOSSAN W
KELAS 8D

Jawabannya:

Jika masyarakat adat beralih ke pandangan modern yang hanya mementingkan ekonomi, maka hutan dan mata air dapat mengalami kerusakan karena dieksploitasi secara berlebihan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan berkurangnya sumber air, erosi, banjir, tanah longsor, dan menurunnya kesejahteraan masyarakat.

Strategi yang dapat dilakukan lembaga adat adalah menggabungkan aturan adat dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Misalnya, tetap melindungi hutan dan mata air melalui zonasi serta larangan penebangan di daerah penting, sambil mengembangkan sumber ekonomi yang ramah lingkungan seperti ekowisata, pertanian berkelanjutan, dan pemanfaatan hasil hutan tanpa merusaknya. Dengan begitu, kelestarian alam tetap terjaga dan masyarakat tetap memperoleh kesejahteraan ekonomi.

Assyifa Khaira mengatakan...

Nama: Assyifa Khaira
Kelas: 8.D
Jawaban:

Jika masyarakat adaat beralih sepenuhnya ke pandangan modern ygvmenganggap hutan sebagai sumber ekonomi zonasi hutan dapat rusak akibat eksploitasi.
Langkah sytrategis adalah, mempertahankan zonasi adat, membuat pengaturan adat serta pengawasan, menggabungkan pelestarian alam dengan kegiatan ekonomi

Muhammad Keanue Pascal Pangestu mengatakan...

Nama:muhammad keanue Pascal Pangestu
Kelas:8d
Jawaban:
cara pandang modern cenderung bersifat mekanistik dan antroposentris, melihat alam sekadar sebagai komoditas atau sumber daya linier untuk dieksploitasi demi keuntungan ekonomi.

nadiaa mengatakan...

nadia syafira
8d

Jika masyarakat adat beralih ke cara pandang modern, hutan dapat dieksploitasi sehingga mata air berkurang dan ekosistem rusak. Lembaga adat dapat mempertahankan zonasi hutan dengan aturan adat, sambil mengembangkan usaha ramah lingkungan seperti ekowisata dan hasil hutan non-kayu.

Anonim mengatakan...

Nama alphard
Kelas 8d
Jawabannya:

Jika masyarakat adat beralih ke pandangan modern yang hanya mementingkan ekonomi, maka hutan dan mata air dapat mengalami kerusakan karena dieksploitasi secara berlebihan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan berkurangnya sumber air, erosi, banjir, tanah longsor, dan menurunnya kesejahteraan masyarakat.

Strategi yang dapat dilakukan lembaga adat adalah menggabungkan aturan adat dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Misalnya, tetap melindungi hutan dan mata air melalui zonasi serta larangan penebangan di daerah penting, sambil mengembangkan sumber ekonomi yang ramah lingkungan seperti ekowisata, pertanian berkelanjutan, dan pemanfaatan hasil hutan tanpa merusaknya. Dengan begitu, kelestarian alam tetap terjaga dan masyarakat tetap memperoleh kesejahteraan ekonomi.