https://www.youtube.com/watch?v=Xo8vib9TGyM
I.
Identitas
|
Nama
Guru |
: |
Aprizal |
||
|
Mata
Pelajaran |
: |
Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) |
|
|
|
Hari/Tanggal |
: |
Senin,
2 November 2026 |
|
|
|
Fase/Kelas |
: |
D /
8C |
|
|
|
Judul
Materi |
: |
Mobilitas
Sosial |
|
|
II. Capaian & Tujuan
Pembelajaran
Ø Capaian
Pembelajaran:
Pada akhir Fase D, Peserta didik
mampu memahami konsep mobilitas sosial (vertikal/horizontal), faktor pendorong,
penghambat, serta dampaknya di masyarakat.
Ø Tujuan
Pembelajaran:
Peserta didik dapat menelaah struktur
pelapisan sosial serta mengidentifikasi faktor penentu keberhasilan mobilitas
vertikal naik (climbing) melalui studi biografi tokoh lokal secara empiris.
III.
Pendekatan Pembelajaran (Kurikulum Merdeka)
Ø Mindfull
(Berkesadaran): Peserta didik secara kritis, teliti,
dan sadar penuh (present & reflective) merefleksikan posisi sosial mereka
saat ini dan menyadari potensi diri untuk melakukan mobilitas sosial vertikal
naik melalui pendidikan, karakter yang baik, dan kerja keras.
Ø Meaningfull
(Bermakna): Pembelajaran dikaitkan langsung
dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, sehingga mereka paham pentingnya
usaha, ketekunan, dan adaptasi untuk mengubah nasib serta berkontribusi positif
bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Ø Joyful
(Menyenangkan): Belajar dilakukan melalui aktivitas
kolaboratif yang interaktif seperti bermain peran (role-play) profesi
cita-cita, bedah biografi tokoh inspiratif lokal secara berkelompok, serta kuis
interaktif mengenai faktor mobilitas.
IV.
Alur Tujuan Pembelajaran
|
Pengenalan & Pemahaman |
: |
Pada tahap ini, peserta didik mampu
mengevaluasi konsep dasar mobilitas sosial, membedakan secara kritis antara
pergerakan sosial vertikal dan horizontal dalam dinamika masyarakat. |
|
Pemetaan |
: |
Peserta didik mampu menganalisis dan
mengidentifikasi secara berkesadaran berbagai faktor pendorong dan penghambat
mobilitas sosial di lingkungan tempat tinggalnya. |
|
Penerapan Strategi & Evaluasi |
: |
Pada tahap akhir, peserta mampu
menerapkan strategi pengembangan diri (pendidikan, keahlian) secara sadar
untuk merencanakan mobilitas sosial naik (social climbing) di masa depan. |
V.
Materi Pembelajaran
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ
وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil
anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi
washahbihi aj’ma’iin, wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.
Anak-anakku, sebelum kita membahas tentang
Mobilitas Sosial, mari kita renungkan bersama:
1.
Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah
Pencipta alam semesta beserta segala akal pikiran dan potensi manusia, yang
kemudian melahirkan inovasi dan kemampuan manusia untuk terus belajar,
beradaptasi, serta mengubah status dan peran sosialnya menjadi lebih baik
(mobilitas naik).
2. Al-Malik (Maha Memelihara/Menguasai):
Allah SWT adalah Penguasa mutlak yang memelihara segala urusan hamba-Nya.
Dalam konteks pelapisan sosial, kita menyadari bahwa jabatan, kekayaan, atau
status yang dicapai melalui mobilitas sosial adalah amanah sementara yang harus
dipelihara dan digunakan untuk kemaslahatan bersama.
3. Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah
SWT menjamin dan memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya melalui berbagai
jalan, termasuk melalui ketekunan bersekolah dan bekerja keras yang merupakan
saluran utama bagi seseorang untuk mengalami mobilitas sosial secara positif.
Pengantar Materi
Dalam kehidupan bermasyarakat, posisi
seseorang tidak selalu tetap. Ada kalanya seseorang yang berasal dari keluarga
biasa berhasil menjadi pengusaha sukses, atau sebaliknya. Pergerakan inilah
yang disebut dengan mobilitas sosial. Mari pelajari materi ini secara tuntas
untuk merencanakan masa depan kalian secara sadar dan bermakna.
A.
Pengertian Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial adalah perpindahan posisi
seseorang atau sekelompok orang dari satu lapisan (strata) sosial ke lapisan
sosial lainnya, baik ke tingkat yang lebih tinggi, lebih rendah, atau
setingkat.
B.
Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial
1) Mobilitas
Vertikal: Perpindahan status sosial yang tidak
sederajat. Dibagi menjadi dua:
a) Social
Climbing (Naik): Naiknya status sosial seseorang,
misal dari karyawan biasa menjadi manajer.
b) Social
Sinking (Turun): Turunnya status sosial, misal dari
direktur menjadi pengangguran karena perusahaannya bangkrut.
2) Mobilitas
Horizontal: Perpindahan status sosial yang
sederajat. Contoh: Seorang guru SMP pindah mengajar ke SMP lain, jabatannya
tetap sebagai guru.
C.
Faktor Pendorong dan Penghambat
Ø Faktor
Pendorong:
ü Struktural:
Kesempatan untuk menduduki jabatan tertentu yang terbuka.
ü Individu:
Sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
ü Sosial:
Ketidakpuasan akan status sosial saat ini.
ü Ekonomi:
Keinginan memperbaiki taraf hidup.
ü Pendidikan:
Saluran utama (social elevator) untuk mobilitas naik.
Ø Faktor
Penghambat:
ü Kemiskinan:
Keterbatasan biaya menghambat akses pendidikan dan modal.
ü Diskriminasi:
Pembedaan perlakuan karena alasan ras, agama, atau golongan.
Link Video Pembelajaran: https://www.youtube.com/watch?v=F3x9wI3M0E8
(Mengenal Mobilitas Sosial di
Indonesia)
VI.
Alat Peraga / Media Pembelajaran
·
- Video Pembelajaran
(Tautan YouTube)
·
- PPT Pembelajaran /
Canva presentasi / Biografi Tokoh Lokal Inspiratif
·
- LCD Proyektor, Laptop,
dan Gawai/Smartphone Peserta Didik untuk kuis/game.
VII.
Assessment (Penilaian & Refleksi)
Pertanyaan Refleksi Siswa:
1. Berdasarkan pengamatanmu, sebutkan satu
tokoh di sekitarmu yang berhasil melakukan social climbing. Apa faktor penentu
keberhasilannya?
VIII.
Kesimpulan Maretri
Mobilitas sosial adalah dinamika
pergerakan status sosial dalam masyarakat yang dapat bersifat vertikal
(naik/turun) maupun horizontal. Pergerakan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor
pendorong seperti pendidikan dan kondisi ekonomi, serta faktor penghambat
seperti kemiskinan. Pendidikan yang baik merupakan "social elevator"
(eskalator sosial) yang paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan dan
mencapai mobilitas vertikal naik.
KESIMPULAN HASIL PEMBELAJARAN
1) Kompetensi yang sudah dikuasai dan yang perlu ditingkatkan:
Kompetensi yang Sudah Dikuasai: Peserta didik telah menguasai kemampuan dalam mengidentifikasi, mengategorikan, dan menganalisis secara mendalam berbagai faktor pendorong mobilitas sosial naik (social climbing) berdasarkan kasus nyata di lingkungan sekitar. Peserta didik mampu menghubungkan fenomena mobilitas sosial dengan beragam faktor seperti pendidikan, keahlian digital, etos kerja, ketekunan, kemitraan, inovasi bisnis, hingga integrasi sosial dan kepemimpinan masyarakat.
Kompetensi yang Perlu Ditingkatkan: Sebagian peserta didik masih perlu ditingkatkan kemampuannya dalam mengklasifikasikan faktor-faktor pendorong tersebut ke dalam kategorisasi struktur sosiologis yang lebih formal (misalnya membedakan secara tajam antara saluran mobilitas pendidikan, ekonomi, politik, dan organisasi profesi) serta merumuskan analisis komparatif mengenai hambatan atau mobilitas vertikal turun (social sinking).
2) Kesimpulan berupa tingkat pemahaman konsep, hafalan, analisis, hingga evaluasi materi pelajaran:
Tingkat Pemahaman Konsep: Sangat Baik. Peserta didik memahami dengan utuh bahwa mobilitas sosial vertikal naik dapat diraih melalui berbagai jalur dan tidak terbatas pada satu profesi atau latar belakang ekonomi tertentu.
Tingkat Hafalan: Baik. Peserta didik mampu mengingat dan mendeskripsikan secara akurat istilah-istilah serta konsep saluran mobilitas sosial (pendidikan, ekonomi, teknologi digital, kepemimpinan/organisasi).
Tingkat Analisis & Evaluasi: Sangat Memuaskan. Hal ini terlihat dari keberhasilan peserta didik dalam menyajikan analisis kontekstual yang sangat kaya, membedakan pendorong mobilitas di era konvensional (pendidikan resmi, kerja keras, sertifikasi) dengan era digital (literasi teknologi, portofolio digital, e-sports, dan e-commerce), serta menilai bahwa integritas, etos kerja, dan adaptabilitas merupakan kunci utama perbaikan status sosial masyarakat.
3) Diamati selama proses pembelajaran berlangsung di kelas:
Selama proses pembelajaran berlangsung, pengamatan di kelas menunjukkan partisipasi aktif dan keterlibatan tinggi dari seluruh peserta didik (terlihat dari 36 tanggapan kontekstual yang masuk secara berurutan dan terstruktur).
Peserta didik menunjukkan kepedulian sosial dan peka terhadap fenomena di lingkungan sekitarnya, serta mampu melakukan refleksi kritis dengan mengambil contoh konkrit dari kehidupan sehari-hari (tetangga, kerabat, alumni, hingga teman sebaya) sebagai bukti nyata penerapan materi Sosiologi/IPS dalam kehidupan nyata.
36 komentar:
ANISA MAHARANI: Seorang tetangga yang sukses menjadi penulis buku terkenal membuktikan bahwa ketekunan melahirkan karya di tengah keterbatasan fasilitas adalah kunci mobilitas sosial yang nyata
ALISCA SAPALINA PUTRI: Kenaikan status sosial pemilik salon rumahan menjadi pusat kecantikan terkenal dipicu oleh konsistensinya dalam menjaga kualitas produk dan mengikuti sertifikasi resmi.
ALFHARIS ADI: Keberhasilan seorang pemuda kampung menjadi manajer hotel berbintang diraih karena kesiapannya untuk merantau dan belajar dari level paling bawah dengan tekun.
AINIYA KHALIQA ZAHIN: Transformasi seorang guru mengaji tradisional yang kini mengelola yayasan pendidikan modern menunjukkan bahwa dukungan sosial dari komunitas menjadi faktor penentu yang kuat.
AHMAD AL HAFIZ: Pemilik usaha peternakan ayam modern di pinggir desa berhasil melakukan mobilitas sosial karena jeli memanfaatkan kemajuan teknologi pertanian dan peternakan cerdas.
ADZKA ALVAROH: Keberhasilan seorang perajin mebel lokal menembus pasar antarkota ditentukan oleh kemampuannya memanfaatkan program kemitraan dan pelatihan dari pemerintah daerah.
Zaskia: Anak seorang penjahit keliling kini menjadi desainer butik terkenal karena keberaniannya keluar dari zona nyaman dan terus memperbarui tren mode masa kini.
Wahyu: Seorang tetangga yang sukses beralih profesi menjadi agen properti sukses menunjukkan bahwa kecakapan komunikasi dan negosiasi adalah faktor penentu perbaikan nasib.
Suri: Pemilik warung makan yang kini sukses membuka restoran waralaba membuktikan bahwa adaptasi terhadap sistem manajemen modern menjadi pembeda utama dalam mobilitas ekonomi.
Sultan: Kenaikan status sosial seorang kerabat dari pegawai biasa menjadi direktur operasional ditentukan oleh etos kerja yang tinggi dan kemampuan menyelesaikan masalah di perusahaan.
Raisya M: Seorang montir bengkel keliling yang kini memiliki bengkel mobil terbesar di daerahnya sukses karena kombinasi keahlian teknis yang andal dan pelayanan yang jujur.
Raissa: Kunci keberhasilan social climbing pada pemilik toko kelontong yang kini menjadi swalayan adalah keberaniannya mengambil risiko investasi dan melakukan modernisasi toko.
Rafa: Mentor belajar di lingkungan RT yang kini memiliki bimbingan belajar sendiri dihormati masyarakat karena ketulusannya membantu anak-anak kurang mampu agar pintar.
Putri: Ketua RW yang sukses membawa kampung menjadi juara lomba kebersihan tingkat kota mengalami mobilitas sosial karena kemampuan kepemimpinannya yang merangkul semua warga.
Olivia: Pembina ekskul di sekolah yang kini dipercaya menjadi pengurus asosiasi olahraga daerah menunjukkan bahwa integritas dan loyalitas organisasi adalah faktor penentu utama.
Nessa Mahatma: Seorang relawan sosial di lingkungan rumah berhasil naik status sosialnya menjadi tokoh masyarakat karena konsistensinya menggerakkan program pemberdayaan warga.
Nessa Liana: Ketua komite sekolah yang awalnya warga biasa kini sangat dihormati karena keterampilannya dalam menjembatani komunikasi antara wali murid dan pihak sekolah.
Navaro: Tokoh pemuda di desa yang kini terpilih menjadi anggota dewan setempat mencapai posisi tersebut karena dedikasi tingginya dalam memimpin organisasi karang taruna.
RAFI DINATA: Teman bermain yang kini menjadi atlet e-sports profesional membuktikan bahwa hobi yang ditekuni secara serius dan terarah dapat menaikkan status sosial secara signifikan.
FATAHILLAH: Ilustrator muda di lingkungan sekitar yang kini mendapat proyek dari luar negeri sukses karena memanfaatkan platform digital global untuk memamerkan karyanya.
alif: Seorang tetangga yang kini menjadi fotografer pernikahan papan atas meraih keberhasilan karena kemampuannya membangun jaringan (networking) yang luas melalui internet.
Mikko Satria: Pemuda di lingkungan desa yang kini menjadi editor video tepercaya bagi banyak instansi membuktikan bahwa keahlian digital mampu mendobrak batasan kelas sosial.
Mayzia: Kakak kelas yang sukses menjadi model nasional berawal dari keberaniannya membangun portofolio digital yang positif di media sosial pribadi sejak remaja.
M. Rizky: Seorang alumni sekolah yang kini menjadi content creator terkenal berhasil melakukan social climbing berkat konsistensinya menyajikan konten edukasi yang bermanfaat.
Jasmine: Penjual jajanan pasar di depan sekolah yang kini mampu membuka cabang toko kue modern berhasil karena inovasi produk dan strategi pemasaran yang menarik konsumen.
Inka: Teman sekolah yang berhasil membantu ekonomi keluarganya melalui bisnis kerajinan tangan di platform e-commerce menunjukkan pentingnya kreativitas di era digital.
Habib: Mantan pengemudi ojek daring di lingkungan sekitar kini sukses memiliki armada mobil rental karena kecerdasannya dalam menginvestasikan penghasilan harian secara disiplin.
Gavin: Tetangga yang merintis usaha katering dari dapur kecil rumahnya hingga kini memiliki gedung pertemuan sendiri sukses karena selalu menjaga kualitas rasa dan pelayanan.
Friand: Seorang ibu rumah tangga di lingkungan RT yang kini menjadi agen sembako besar membuktikan bahwa ketekunan mengelola modal kecil menjadi faktor penentu mobilitasnya.
Faiq: Pemuda di sebelah rumah berhasil menaikkan derajat ekonominya menjadi pengusaha sukses berkat kejeliannya melihat peluang bisnis pakaian bekas secara daring (online).
Elisa: Transformasi status sosial seorang sepupu yang kini menjadi ahli IT dipicu oleh keputusannya untuk tekun belajar keahlian komputer secara mandiri sejak bangku sekolah.
Fachri: Paman yang awalnya hanya lulusan SMA kini menjadi manajer personalia setelah berhasil menyelesaikan kuliah malam sembari bekerja keras di pabrik.
Damar: Anak dari seorang buruh tani di desa berhasil menjadi dokter karena fokus, kerja keras, dan kedisiplinan tinggi dalam menempuh pendidikan yang ketat.
Athaya: Kakak tingkat di sekolah yang kini kuliah di universitas ternama membuktikan bahwa penguasaan bahasa asing dan prestasi akademik mampu mengubah posisi sosial keluarga.
Aqilah: Guru honorer di sekolah yang berhasil diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi profesional secara konsisten adalah kunci kenaikan status sosial.
Alifiandra: Seorang anak tetangga yang dahulu keterbatasan ekonomi kini sukses menjadi arsitek di kota besar karena kegigihannya dalam berburu beasiswa pendidikan tinggi.
Posting Komentar