Mentari pagi Ramadan menyapa dengan kehangatan lembut di ufuk timur Bumi Andalas. Kang Ijal, dengan senyum khasnya, berdiri di tepi Sungai Musi yang membelah Palembang. Setelah menjelajahi pegunungan dan perkebunan di sesi-sesi sebelumnya, kini petualangannya membawanya menyusuri urat nadi kehidupan masyarakat Sumatera Selatan ini.
"Bismillah," gumam Kang Ijal seraya melangkah ke atas perahu ketek yang sudah menantinya. Perahu kecil itu, dengan mesin diesel yang berderu pelan, mulai membelah permukaan sungai yang tenang. Di tepian sungai, aktivitas warga mulai terlihat. Ada yang menjala ikan, mencuci pakaian, bahkan beberapa anak kecil tampak riang bermain air, seolah tak terpengaruh oleh ibadah puasa yang sedang mereka jalani.
Kang Ijal mengamati pemandangan di sekelilingnya dengan penuh kekaguman. Rumah-rumah panggung berdiri kokoh di sepanjang tepian sungai, mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap lingkungan perairan. Sesekali, perahu-perahu pengangkut hasil bumi melintas, membawa aroma rempah dan hasil perkebunan yang khas.
"Assalamu'alaikum, Pak!" sapa Kang Ijal kepada seorang nelayan tua yang sedang memperbaiki jaringnya di atas sebuah lanting.
"Wa'alaikumsalam, Nak Ijal! Mau ke mana pagi-pagi begini?" jawab nelayan itu dengan ramah, mengenali sosok Kang Ijal yang beberapa hari terakhir memang aktif berinteraksi dengan masyarakat.
"Saya sedang dalam ekspedisi Ramadan, Pak. Ingin melihat lebih dekat bagaimana kehidupan masyarakat di sepanjang sungai ini," jelas Kang Ijal.
Nelayan itu tersenyum. "Sungai ini memang kehidupan kami, Nak Ijal. Dari sini kami mencari rezeki, dari sini pula kami belajar tentang kesabaran dan kebersamaan."
Kang Ijal berbincang cukup lama dengan nelayan tersebut, mendengarkan cerita tentang pasang surut sungai, suka duka mencari ikan, dan bagaimana semangat Ramadan tetap membara di tengah kerasnya pekerjaan. Ia juga menyaksikan bagaimana sang nelayan menyempatkan diri untuk berzikir dan membaca Al-Quran di sela-sela kesibukannya.
Perjalanan Kang Ijal berlanjut. Ia singgah di beberapa desa yang terletak di pinggir sungai. Di sana, ia melihat bagaimana masyarakat memanfaatkan sungai untuk berbagai keperluan, mulai dari transportasi hingga sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Ia juga berkesempatan untuk berbagi sedikit rezeki dan semangat Ramadan kepada beberapa keluarga kurang mampu yang ia temui.
Di salah satu desa, Kang Ijal bertemu dengan seorang ibu tunggal yang gigih berjualan makanan ringan di pasar terapung. Meskipun harus berpuasa dan berjualan di bawah terik matahari, semangatnya untuk mencari nafkah demi anak-anaknya tak pernah pudar. Kang Ijal terharu melihat keteguhan hati ibu tersebut.
Menjelang waktu zuhur, Kang Ijal singgah di sebuah masjid terapung yang unik. Masjid kayu sederhana itu berdiri kokoh di atas rakit bambu, menjadi tempat ibadah bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai. Ia ikut melaksanakan salat zuhur berjamaah bersama warga setempat, merasakan kedamaian dan kebersamaan di tengah suasana Ramadan yang khusyuk.
Setelah salat, Kang Ijal berbincang dengan pengurus masjid. Ia belajar tentang sejarah masjid tersebut dan bagaimana peran pentingnya dalam kehidupan spiritual masyarakat sungai. Ia juga menyadari bahwa sungai bukan hanya sekadar sumber kehidupan materi, tetapi juga menjadi saksi bisu bagi nilai-nilai agama dan tradisi yang kuat.
Sore harinya, Kang Ijal kembali melanjutkan perjalanannya. Ia menyaksikan pemandangan matahari terbenam yang begitu indah di atas Sungai Musi, memantulkan warna jingga dan ungu di permukaan air yang tenang. Suara azan magrib dari kejauhan terdengar sayup-sayup, menandakan waktu berbuka puasa telah tiba.
Kang Ijal memutuskan untuk berbuka puasa bersama beberapa keluarga nelayan yang ia temui di salah satu desa. Hidangan sederhana berupa ikan bakar segar, nasi hangat, dan sambal terasi terasa begitu nikmat disantap bersama-sama di tepi sungai. Suasana keakraban dan kehangatan begitu terasa, meskipun mereka baru saling mengenal.
Setelah berbuka dan melaksanakan salat magrib, Kang Ijal duduk bercengkerama dengan para nelayan. Mereka berbagi cerita tentang pengalaman berpuasa di tengah aktivitas sehari-hari, tantangan yang dihadapi, dan harapan-harapan mereka di bulan Ramadan yang penuh berkah ini.
Malam semakin larut, Kang Ijal berpamitan kepada keluarga nelayan tersebut. Ia kembali ke perahunya, membawa serta kenangan indah dan pelajaran berharga dari perjalanannya menyusuri "Sungai Kehidupan". Ia menyadari bahwa keberkahan Ramadan tidak hanya bisa ditemukan di tempat-tempat yang megah, tetapi juga di tengah kesederhanaan dan keteguhan hati masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.
"Sungai ini adalah cerminan kehidupan yang sesungguhnya," pikir Kang Ijal. "Mengalir, memberi kehidupan, dan mengajarkan tentang kesabaran serta kebersamaan. Semoga Ramadan ini membawa berkah yang melimpah bagi seluruh masyarakat di Bumi Andalas."
Dengan hati yang penuh syukur, Kang Ijal melanjutkan perjalanannya, siap untuk menapaki jejak keberkahan Ramadan di sesi-sesi berikutnya. Sungai Musi, dengan segala keindahan dan kisahnya, telah memberikan pelajaran yang tak ternilai harganya dalam ekspedisi kali ini.
Disclaimer :
(Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.)