Welcome

<< Mulai dengan cerita yang menarik>> << SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA >>

Senin, 31 Maret 2025

Ekspedisi Ramadan Kang Ijal: Jejak Keberkahan di Bumi Andalas - Sesi 4: Menyusuri Sungai Kehidupan



Mentari pagi Ramadan menyapa dengan kehangatan lembut di ufuk timur Bumi Andalas. Kang Ijal, dengan senyum khasnya, berdiri di tepi Sungai Musi yang membelah Palembang. Setelah menjelajahi pegunungan dan perkebunan di sesi-sesi sebelumnya, kini petualangannya membawanya menyusuri urat nadi kehidupan masyarakat Sumatera Selatan ini.

"Bismillah," gumam Kang Ijal seraya melangkah ke atas perahu ketek yang sudah menantinya. Perahu kecil itu, dengan mesin diesel yang berderu pelan, mulai membelah permukaan sungai yang tenang. Di tepian sungai, aktivitas warga mulai terlihat. Ada yang menjala ikan, mencuci pakaian, bahkan beberapa anak kecil tampak riang bermain air, seolah tak terpengaruh oleh ibadah puasa yang sedang mereka jalani.

Kang Ijal mengamati pemandangan di sekelilingnya dengan penuh kekaguman. Rumah-rumah panggung berdiri kokoh di sepanjang tepian sungai, mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap lingkungan perairan. Sesekali, perahu-perahu pengangkut hasil bumi melintas, membawa aroma rempah dan hasil perkebunan yang khas.

"Assalamu'alaikum, Pak!" sapa Kang Ijal kepada seorang nelayan tua yang sedang memperbaiki jaringnya di atas sebuah lanting.

"Wa'alaikumsalam, Nak Ijal! Mau ke mana pagi-pagi begini?" jawab nelayan itu dengan ramah, mengenali sosok Kang Ijal yang beberapa hari terakhir memang aktif berinteraksi dengan masyarakat.

"Saya sedang dalam ekspedisi Ramadan, Pak. Ingin melihat lebih dekat bagaimana kehidupan masyarakat di sepanjang sungai ini," jelas Kang Ijal.

Nelayan itu tersenyum. "Sungai ini memang kehidupan kami, Nak Ijal. Dari sini kami mencari rezeki, dari sini pula kami belajar tentang kesabaran dan kebersamaan."

Kang Ijal berbincang cukup lama dengan nelayan tersebut, mendengarkan cerita tentang pasang surut sungai, suka duka mencari ikan, dan bagaimana semangat Ramadan tetap membara di tengah kerasnya pekerjaan. Ia juga menyaksikan bagaimana sang nelayan menyempatkan diri untuk berzikir dan membaca Al-Quran di sela-sela kesibukannya.

Perjalanan Kang Ijal berlanjut. Ia singgah di beberapa desa yang terletak di pinggir sungai. Di sana, ia melihat bagaimana masyarakat memanfaatkan sungai untuk berbagai keperluan, mulai dari transportasi hingga sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Ia juga berkesempatan untuk berbagi sedikit rezeki dan semangat Ramadan kepada beberapa keluarga kurang mampu yang ia temui.

Di salah satu desa, Kang Ijal bertemu dengan seorang ibu tunggal yang gigih berjualan makanan ringan di pasar terapung. Meskipun harus berpuasa dan berjualan di bawah terik matahari, semangatnya untuk mencari nafkah demi anak-anaknya tak pernah pudar. Kang Ijal terharu melihat keteguhan hati ibu tersebut.

Menjelang waktu zuhur, Kang Ijal singgah di sebuah masjid terapung yang unik. Masjid kayu sederhana itu berdiri kokoh di atas rakit bambu, menjadi tempat ibadah bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai. Ia ikut melaksanakan salat zuhur berjamaah bersama warga setempat, merasakan kedamaian dan kebersamaan di tengah suasana Ramadan yang khusyuk.

Setelah salat, Kang Ijal berbincang dengan pengurus masjid. Ia belajar tentang sejarah masjid tersebut dan bagaimana peran pentingnya dalam kehidupan spiritual masyarakat sungai. Ia juga menyadari bahwa sungai bukan hanya sekadar sumber kehidupan materi, tetapi juga menjadi saksi bisu bagi nilai-nilai agama dan tradisi yang kuat.

Sore harinya, Kang Ijal kembali melanjutkan perjalanannya. Ia menyaksikan pemandangan matahari terbenam yang begitu indah di atas Sungai Musi, memantulkan warna jingga dan ungu di permukaan air yang tenang. Suara azan magrib dari kejauhan terdengar sayup-sayup, menandakan waktu berbuka puasa telah tiba.

Kang Ijal memutuskan untuk berbuka puasa bersama beberapa keluarga nelayan yang ia temui di salah satu desa. Hidangan sederhana berupa ikan bakar segar, nasi hangat, dan sambal terasi terasa begitu nikmat disantap bersama-sama di tepi sungai. Suasana keakraban dan kehangatan begitu terasa, meskipun mereka baru saling mengenal.

Setelah berbuka dan melaksanakan salat magrib, Kang Ijal duduk bercengkerama dengan para nelayan. Mereka berbagi cerita tentang pengalaman berpuasa di tengah aktivitas sehari-hari, tantangan yang dihadapi, dan harapan-harapan mereka di bulan Ramadan yang penuh berkah ini.

Malam semakin larut, Kang Ijal berpamitan kepada keluarga nelayan tersebut. Ia kembali ke perahunya, membawa serta kenangan indah dan pelajaran berharga dari perjalanannya menyusuri "Sungai Kehidupan". Ia menyadari bahwa keberkahan Ramadan tidak hanya bisa ditemukan di tempat-tempat yang megah, tetapi juga di tengah kesederhanaan dan keteguhan hati masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.

"Sungai ini adalah cerminan kehidupan yang sesungguhnya," pikir Kang Ijal. "Mengalir, memberi kehidupan, dan mengajarkan tentang kesabaran serta kebersamaan. Semoga Ramadan ini membawa berkah yang melimpah bagi seluruh masyarakat di Bumi Andalas."

Dengan hati yang penuh syukur, Kang Ijal melanjutkan perjalanannya, siap untuk menapaki jejak keberkahan Ramadan di sesi-sesi berikutnya. Sungai Musi, dengan segala keindahan dan kisahnya, telah memberikan pelajaran yang tak ternilai harganya dalam ekspedisi kali ini.










Disclaimer :

(Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.)

Sabtu, 29 Maret 2025

Ekspedisi Ramadan: Jejak Keberkahan di Bumi Andalas - Sesi 3: Menyusuri Sungai Kehidupan






Mentari pagi di hari ke-15 Ramadan menyapa Bandar Lampung dengan kehangatan yang lembut. Setelah sahur dan salat Subuh berjamaah di Masjid Agung Al-Furqan, tim ekspedisi Ramadan yang terdiri dari Amir, seorang mahasiswa yang penuh semangat; Fatimah, seorang ibu rumah tangga yang bijaksana; dan Rizal, seorang fotografer freelance yang selalu ceria, kembali berkumpul.

Sesi ketiga ekspedisi ini membawa mereka menyusuri salah satu urat nadi kehidupan di Lampung: Sungai Way Sekampung. Tujuan mereka kali ini bukan hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga belajar tentang kearifan lokal masyarakat yang hidup berdampingan dengan sungai ini, terutama dalam menjalankan ibadah puasa.

"Hari ini kita akan melihat bagaimana masyarakat di sepanjang Sungai Way Sekampung menjalani Ramadan," ujar Amir sambil membuka peta di atas kap mobil. "Saya dengar, ada beberapa tradisi unik yang masih mereka lestarikan."

Perjalanan dimulai dengan mobil menuju daerah hilir sungai. Sesampainya di sana, mereka menyewa perahu kecil yang akan membawa mereka menyusuri aliran sungai yang tenang. Di sepanjang tepian sungai, tampak rumah-rumah panggung sederhana dan kebun-kebun karet serta sawah yang menghijau. Anak-anak kecil terlihat riang bermain di tepian sungai, sementara para ibu sibuk mencuci pakaian atau menyiapkan makanan untuk berbuka.

Fatimah tersenyum melihat pemandangan itu. "Sungguh sederhana namun penuh kehangatan," katanya. "Ramadan memang mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat yang kecil."

Saat waktu zuhur tiba, mereka berlabuh di sebuah desa kecil yang tampak asri. Mereka disambut ramah oleh kepala desa dan diajak untuk salat berjamaah di masjid sederhana yang terbuat dari kayu. Setelah salat, mereka berbincang dengan beberapa warga tentang bagaimana mereka menjalankan ibadah puasa di tengah kesibukan sehari-hari.

"Kami di sini sudah terbiasa berpuasa sambil bekerja di ladang atau mencari ikan di sungai," cerita Pak Usman, seorang nelayan tua dengan kulit legam terbakar matahari. "Yang penting niatnya ikhlas karena Allah. Panas dan lapar sudah menjadi bagian dari ibadah kami."

Rizal tak henti-hentinya mengabadikan momen-momen berharga ini dengan kameranya. Ia menangkap ekspresi wajah para warga yang penuh semangat meski sedang berpuasa, serta interaksi hangat antara tim ekspedisi dengan masyarakat setempat.

Menjelang sore, mereka melanjutkan perjalanan menyusuri sungai. Pemandangan semakin memukau dengan pepohonan rindang yang menjulang tinggi di kedua sisi sungai, serta suara burung-burung yang berkicau merdu. Amir sesekali menghentikan perahu untuk sekadar menikmati ketenangan dan keindahan alam.

"Sungai ini bukan hanya sumber air, tapi juga sumber kehidupan bagi masyarakat di sini," gumam Amir. "Kita bisa belajar banyak tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara manusia dan alam dari mereka."

Saat waktu berbuka puasa semakin dekat, mereka singgah di sebuah dermaga kecil di dekat perkampungan lain. Beberapa ibu-ibu sudah menyiapkan hidangan sederhana untuk berbuka, seperti nasi, ikan bakar, sayur lalapan, dan sambal terasi yang menggugah selera. Mereka dengan senang hati mengajak tim ekspedisi untuk berbuka bersama.

Suasana berbuka puasa di tepi sungai terasa begitu syahdu. Lantunan azan Maghrib dari masjid terdekat berpadu dengan suara gemericik air sungai dan riuh rendah percakapan. Mereka berbagi makanan dan cerita, merasakan kehangatan persaudaraan yang begitu kental di bulan Ramadan.

Setelah salat Maghrib, tim ekspedisi berpamitan kepada warga desa. Mereka membawa pulang bukan hanya foto-foto indah, tetapi juga pelajaran berharga tentang kesederhanaan, ketabahan, dan kearifan lokal dalam menjalankan ibadah puasa.

"Perjalanan hari ini benar-benar membuka mata saya," kata Fatimah saat mereka kembali ke Bandar Lampung. "Saya jadi lebih menghargai nikmat Allah yang sederhana dan semangat ibadah saudara-saudara kita di pelosok desa."

"Benar sekali," timpal Rizal. "Foto-foto ini akan menjadi pengingat yang kuat tentang betapa beragamnya cara kita memaknai dan menjalankan Ramadan di bumi Andalas ini."

Amir tersenyum. Ekspedisi Ramadan sesi ketiga ini telah memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Menyusuri Sungai Way Sekampung bukan hanya tentang menikmati keindahan alam, tetapi juga tentang belajar dari "sungai kehidupan" masyarakat yang sederhana namun penuh berkah di bulan suci Ramadan. Mereka bertiga pun semakin bersemangat untuk melanjutkan sesi-sesi ekspedisi Ramadan berikutnya, menelusuri jejak-jejak keberkahan di berbagai sudut Lampung.

Jumat, 21 Maret 2025

Ekspedisi Ramadan Kang Ijal: Jejak Keberkahan di Bumi Andalas : Menyusuri Sungai Kehidupan

Mentari pagi di hari ke-15 Ramadan menyapa Bandar Lampung dengan sinarnya yang lembut. Kang Ijal, dengan senyum khasnya, sudah bersiap di tepi Sungai Way Sekampung. Sesi kelima ekspedisi Ramadan kali ini membawa mereka menyusuri denyut nadi kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai: "Menyusuri Sungai Kehidupan".

"Bismillah," ucap Kang Ijal seraya menaiki perahu motor sederhana yang sudah disewa. Bersamanya, seperti biasa, ada tim kecil yang setia: Farid si kameramen yang selalu sigap mengabadikan momen, Sarah yang bertugas mencatat setiap interaksi dan kisah inspiratif, dan Pak Ujang, seorang tokoh masyarakat setempat yang menjadi penunjuk jalan mereka.

Sungai Way Sekampung pagi itu tampak tenang, memantulkan hijaunya pepohonan di tepian. Perahu melaju perlahan, membelah air yang sesekali berkilauan terkena cahaya matahari. Di sepanjang sungai, tampak aktivitas warga yang sudah dimulai sejak pagi. Ada yang mencuci pakaian di tepian, anak-anak kecil yang riang bermain air, dan para nelayan yang menebarkan jala mencari rezeki.

"Lihatlah, Farid, Sarah," kata Kang Ijal sambil menunjuk ke arah seorang ibu yang sedang menimba air. "Sungai ini bukan hanya sumber air, tapi juga urat nadi kehidupan bagi mereka. Kita akan belajar banyak tentang bagaimana mereka menjalani Ramadan dengan segala keterbatasan namun tetap penuh syukur."

Perjalanan menyusuri sungai membawa mereka ke beberapa perkampungan kecil yang hanya bisa diakses melalui jalur air. Di setiap tempat yang mereka singgahi, Kang Ijal dan tim disambut dengan hangat. Mereka berinteraksi dengan warga, mendengarkan cerita-cerita tentang suka duka kehidupan di tepi sungai, dan tentu saja, bagaimana mereka menjalankan ibadah puasa.

Di salah satu desa, mereka bertemu dengan seorang kakek renta bernama Pak Salim. Meski usianya sudah senja dan kondisi fisiknya tidak lagi prima, semangatnya dalam berpuasa sangat menginspirasi. Beliau bercerita tentang bagaimana sungai menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya, dari masa kecil hingga kini.

"Dulu, sungai ini sangat jernih. Ikan-ikan melimpah. Sekarang memang sudah banyak perubahan, tapi kami tetap bersyukur dengan apa yang ada," tutur Pak Salim dengan mata berbinar. "Ramadan bagi kami adalah waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, mensyukuri nikmat yang telah diberikan, termasuk sungai yang memberikan kehidupan ini."

Kang Ijal dan tim juga berkesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan memberikan bingkisan Ramadan berupa bahan makanan pokok dan perlengkapan ibadah kepada beberapa keluarga yang membutuhkan di sepanjang sungai. Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka saat menerima bantuan tersebut.

Menjelang waktu zuhur, perahu mereka merapat di sebuah dermaga kecil di dekat sebuah musala sederhana. Kang Ijal dan tim ikut melaksanakan salat zuhur berjamaah bersama warga setempat. Suasana khusyuk terasa begitu kental, apalagi di bulan Ramadan yang penuh berkah ini.

Setelah berbuka puasa sederhana bersama beberapa warga di tepi sungai, Kang Ijal merenung. Perjalanan menyusuri Sungai Way Sekampung hari ini telah membuka matanya lebih lebar tentang arti kesederhanaan dan rasa syukur. Di tengah keterbatasan, masyarakat di tepi sungai tetap mampu menjalani Ramadan dengan penuh semangat dan keikhlasan.

"Sungai ini mengajarkan kita tentang aliran kehidupan yang terus berjalan, dengan segala tantangan dan rintangannya," ujar Kang Ijal kepada timnya saat perjalanan kembali ke Bandar Lampung. "Seperti air sungai yang terus mengalir, begitu juga seharusnya semangat kita dalam beribadah dan berbuat kebaikan, terutama di bulan Ramadan ini."

Sarah dengan cepat mencatat setiap perkataan Kang Ijal. Kisah-kisah inspiratif dari sepanjang Sungai Way Sekampung akan menjadi bagian penting dari catatan ekspedisi mereka.

Ekspedisi Ramadan Kang Ijal sesi kelima ini memang tidak hanya tentang menyusuri sungai secara fisik, tetapi juga tentang menyelami lebih dalam "sungai kehidupan" masyarakat di Bumi Andalas. Jejak keberkahan Ramadan kembali ditemukan, kali ini di tengah aliran air yang memberikan kehidupan bagi banyak orang. Semangat kebersamaan, rasa syukur, dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah puasa menjadi pelajaran berharga yang akan terus mereka bawa dalam perjalanan ekspedisi Ramadan selanjutnya.

Sabtu, 15 Maret 2025

Ekspedisi Berkah Ramadan: Jejak Kebaikan di Tanah Andalas (Sesi 2)

 


Mentari pagi di Bandar Lampung menyapa dengan kehangatan yang khas. Ini adalah hari ke-15 Ramadan, dan tim ekspedisi "Berkah Ramadan" kembali bersiap. Setelah sukses dengan sesi pertama yang berfokus pada pembagian takjil dan santunan di pelosok kota, sesi kedua ini membawa misi yang lebih menantang: menjelajahi desa-desa di pedalaman Lampung untuk memberikan bantuan pendidikan dan kesehatan.

Di bawah komando Pak Ahmad, seorang tokoh masyarakat yang penuh semangat, tim yang terdiri dari mahasiswa, relawan medis, dan beberapa jurnalis ini memulai perjalanan dengan mobil bak terbuka yang telah dimodifikasi. Di atas bak mobil, terbungkus rapi, terdapat kotak-kotak berisi buku tulis, alat sekolah, pakaian layak pakai, serta perlengkapan medis sederhana.

"Bismillah," ucap Pak Ahmad seraya menginjak pedal gas. "Semoga Allah SWT melancarkan niat baik kita di bulan yang penuh berkah ini."

Perjalanan menuju desa pertama, Desa Sinar Harapan, memakan waktu hampir tiga jam. Jalanan yang berkelok dan sebagian masih berupa tanah merah menjadi tantangan tersendiri, apalagi dengan kondisi berpuasa. Namun, semangat para relawan tak surut. Mereka saling menyemangati, berbagi cerita, dan sesekali melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran untuk menjaga kekhusyukan.

Tiba di Desa Sinar Harapan, sambutan hangat dari para warga menyambut kedatangan tim. Anak-anak kecil dengan wajah polos berlarian menghampiri mobil, sementara para ibu dan bapak berkumpul di balai desa. Setelah beristirahat sejenak dan menunaikan salat Zuhur, acara pembagian bantuan pun dimulai.

Dokter Rina, salah satu relawan medis, dengan sabar memeriksa kesehatan warga, memberikan konsultasi, dan obat-obatan sederhana. Sementara itu, para mahasiswa membantu membagikan buku dan alat tulis kepada anak-anak. Senyum cerah terpancar dari wajah mereka saat menerima hadiah tersebut.

"Terima kasih banyak, Bapak, Ibu," ujar seorang ibu dengan mata berkaca-kaca. "Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama untuk pendidikan anak-anak kami."

Sore menjelang, tim ekspedisi melanjutkan perjalanan ke desa berikutnya, Desa Rimba Jaya. Di desa ini, tim tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga mengadakan kegiatan edukatif tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan di bulan Ramadan. Anak-anak diajak bermain sambil belajar, sementara para ibu mendapatkan informasi tentang gizi seimbang saat berpuasa.

Saat waktu berbuka puasa tiba, tim ekspedisi berbagi hidangan sederhana dengan para warga. Suasana kebersamaan terasa begitu hangat dan penuh kekeluargaan. Lantunan azan Maghrib yang berkumandang di tengah hutan seolah menambah kesyahduan momen tersebut.

Malam harinya, setelah menunaikan salat Tarawih berjamaah di masjid sederhana desa, tim berdiskusi tentang pengalaman hari ini. Mereka merasa terharu dan bersyukur bisa berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara di pedalaman.

"Melihat senyum tulus anak-anak tadi, rasanya semua lelah selama perjalanan terbayar lunas," kata Andi, salah satu mahasiswa relawan.

"Benar," timpal Sarah, seorang jurnalis yang ikut dalam ekspedisi ini. "Ramadan memang bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi juga tentang meningkatkan kepedulian dan berbagi dengan sesama."

Keesokan harinya, tim ekspedisi melanjutkan perjalanan ke desa-desa lainnya, membawa misi kebaikan Ramadan hingga pelosok Lampung. Mereka menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang memberikan bantuan materi, tetapi juga tentang membangun jembatan persaudaraan dan menumbuhkan harapan di hati setiap orang yang mereka temui.

Di tengah teriknya matahari dan tantangan perjalanan, semangat Ramadan terus membara dalam hati setiap anggota tim. Mereka yakin bahwa setiap tetes keringat dan setiap langkah yang mereka ambil adalah bagian dari ibadah di bulan suci ini. Ekspedisi Berkah Ramadan sesi kedua ini menjadi bukti nyata bahwa kebaikan dapat menjangkau siapa saja, di mana saja, terutama di bulan Ramadan yang penuh dengan rahmat dan ampunan.



Disclaimer :

(Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.)

Jumat, 14 Maret 2025

Kisi kisi STS IPS Semester Genap

 Identitas 


Mata Pelajaran

:

IPS

Kelas 

:

8 AB / Fase D 

Materi

:

Kisi kisi STS IPS Semester Genap

Pertemuan ke

:

1   dari  2

Guru Pengampu

:

Aprizal

Waktu Pembelajaran

:

Jumat 14  Maret  2025


CP

Di akhir kelas 8, peserta didik memahami kondisi geografis Nusantara dan potensi serta pelestarian sumber dayanya. Ia menganalisis hubungan antara keragaman kondisi geografis Nusantara terhadap pembentukan kemajemukan budaya. Ia juga memahami perkembangan hubungan antarwilayah di Nusantara hingga munculnya semangat kebangsaan Indonesia.  


Tujuan Pembelajaran

Melalui pemahaman dan penyampaian materi melalui blog ini sebagai bahan literasi pendukung, peserta didik dapat menjelaskan dan menganalisis  Proses pergerakan kemerdekaan dan Kemerdekaan Indonesia  dengan baik serta mempresentasikan di depan kelas menggunakan Canvas, PPT atau video/mind map atau karya lain sesuai dengan kesiapan siswa.


Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.


silakan pelajari kisi kisi berikut ini 

  1. Disajikan gambar Peserta didik mampu menganalisa kondisi geografis Indonesia.
  2. Melalui pernyataan Peserta didik dapat menganalisis faktor penyebab penjelajahan samudra di Indonesia
  3. Disajikan Peta Peserta didik mampu mendeskripsikan kedatangan bangsa Barat di Indonesia
  4. Melalui analisa dan pernyataan Peserta didik mampu menganalisis berbagai perlawanan terhadap persekutuan dagang di Indonesia 7,8
  5. Melalui ilustrasi dan gambar Peserta didik mampu menghubungkan kolonialisme dan imperialisme dengan perubahan kondisi masyarakat. 
  6. Melalui pernyataan Peserta didik dapat menganalisis perubahan kehidupan masyarakat akibat penjajahan dan pendudukan dari berbagai aspek seperti, ekonomi, pendidikan, budaya, sosial, geografi, dan politik
  7. 11,12,13
  8. Disajikan pernyataan dan gambar Peserta didik mampu mendeskripsikan penyebab pergerakan nasional  14,15,16
  9. Melalui pernyataan dan gambar Peserta didik mampu menganalisis organisasi pergerakan nasional di Indonesia 17,18.19
  10. Peserta didik mampu menganalisis upaya pergerakan pada zaman pendudukan Jepang
  11. Disajikan pernyataan dan gambar Peserta didik mampu menganalisis persiapan dan pelaksanaan kemerdekaan Indonesia
  12. Peserta didik mampu menganalisis hubungan kondisi geografis Indonesia dengan pemerataan pembangunan di Indonesia
  13. Peserta didik mampu mendeskripsikan lembaga keuangan.
  14. Disajikan gambar dan pernyataan Peserta didik dapat menganalisis manfaat lembaga keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
  15. Disajikan wacana literasi Peserta didik mampu memahami penyebab konflik sosial
  16. Disajikan gambar Peserta didik mampu menganalisis dampak negatif dan positif adanya konflik sosial
  17. Disajikan gambar Peserta didik dapat menganalisis solusi penyelesaian konflik sosial.
  18. Peserta didik mampu mendeskripsikan integrasi sosial.




Silakan download  Kisi kisi LUS dan US IPS kelas IX




Silakan download  Kisi kisi STS  kelas VIII


Terima kasih.





Kisi Kisi LUS dan US IPS 2025

 Identitas


Mata Pelajaran

:

IPS

Kelas 

:

9 ABCD

Materi

:

Kisi Kisi LUS dan US IPS 2025

Pertemuan ke

:

1   dari  2

Guru Pengampu

:

Aprizal

Waktu Pembelajaran

:

Jumat 14  Maret  2025


KD

3.4  Menganalisis kronologi, perubahan dan kesinambungan ruang (geografis, politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya) dari awal kemerdekaan sampai awal reformasi


Tujuan Pembelajaran 

Melalui Pembelajaran Discovery Learning peserta didik diharapkan dapat :

MenganalisisKisi Kisi LUS dan US IPS 2025

  

Judul    :  

Kisi Kisi LUS dan US IPS 2025

 

Materi

 

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

 

Bagaimana kabarnya hari ini,  jangan siasiakan waktu dalm beribadah ya? sehat semua yaa.. alhamdulillah..


Insyaa allah kalian sudah sholat subuh semua yaa, sebelum belajar baiknya kita berdoa sejenak.. berdoa mulai... aamiin.   Semoga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dan selalu dalam lindungan Allah Swt. Aamiin

Alhamdulillah hari ini, kita bisa bertemu kembali dalam pelajaran IPS.

Semoga dalam proses pembelajaran kita diberi kemudahan dalam pemahaman. aamiin.

Anak-anakku, pada pertemuan kali ini, kita akan mempelajari  Kisi Kisi LUS dan US IPS 2025. 


Disajikan gambar siswa mampu mendiskripsikan kondisi saling bergantung yang diperlukan untuk terjadinya interaksi antarruang

1

Melalui pernyataan siswa mampu mendiskripsikan dampak letak Indonesia secara geografis 2

Disajikan gambar siswa mampu mendiskripsikan bentuk interaksi sosial 3

Melalui pernyataan siswa mampu menjelaskan pengaruh interaksi sosial terhadap pembentukan lembaga sosial 4

Disajikan sebuah cerita, siswa mampu Mengaitkan penerapan prinsip ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. 5

Disajikan ilustrasi, siswa mampu menjelaskan proses terbentuknya harga pasar 6

Disajikan gambar siswa mampu mendiskripsikan periodesasi  secara arkeologi

7

Disajikan teks siswa mampu mengidentifikasi letak kerajaan islam 8

Melalui pernyataan  siswa mampu memahami berbagai etnik yang ada di Indonesia dan negara-negara dalam  ASEAN 9

Melalui Pernyataan siswa mampu menjelaskan konsep kualitas sumber daya manusia (pendidikan) 10

Melalui pernyataan siswa mampu memahami dampak positif dan negatif dari perdagangan antar negara-negara ASEAN 11

Melalui pernyataan siswa mampu mengidentifikasi  mobilitas sosial 12

Disajikan teks siswa mampu mengidentifikasi tentang budaya (kebudayaan yang dipengaruhi iklim) 13

Melalui ilustrasi siswa mampu mendiskripsikan upaya-upaya mencegah terjadinya konflik sosial 14

Melalui pernyataan siswa mampu mendiskripsikan peran pelaku ekonomi dalam perekonomian 15

Disajikan teks, siswa mampu menganalisis manfaat Lembaga keuangan 16

Disajikan data, siswa mampu menghitung nilai ekspor dan impor suatu negara berdasarkan data yang diberikan 17

Melalui pernyatan Siswa mampu mengidentifikasi latar belakang  kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia. 18

Disajikan teks siswa mampu mendiskripsikan perlawanan terhadap pemerintahan Hindia Belanda 19

Disajikan teks siswa mampu mengidentifikasi proses munculnya organisasi pergerakan dan tumbuhnya semangat kebangsaan 20

Disajikan teks siswa mampu mengidentifikasi letak dan luas Benua Asia dan Benua lainnya.

21

Disajikan peta siswa mampu mendiskripsikan batas antar benua 22

Melalui pernyataan siswa mampu mendiskripsikan fauna khas benua Australia 23

Berdasarkan data siswa mampu  mendiskripsikan kualitas HDI benua Asia 24

Disajikan teks siswa mampu mendiskripsikan budaya bidang fashion di Amerika 25

Melalui pernyataan siswa mampu mengidentifikasi suku bangsa di Eropa 26

Melalui ilustrasi siswa mampu mendeskripsikan bentuk distribusi potensi wilayah Benua Asia dan Benua lainnya 27

Melalui ilustrasi  siswa mampu menganalisis dampak interaksi antarruang terkait perdagangan dan mobilitas penduduk 28

Melalui ilustrasi siswa mampu menganalisis pengaruh interaksi antara desa dan kota 29

Melalui ilustrasi siswa mampu mendiskripsikan interaksi antarruang dalam bidang sosial 30

Melalui ilustrasi siswa mampu mendiskripsikan interaksi antarruang dalam bidang budaya 31

Melalui ilustrasi siswa mampu mengidentifikasi bentuk perubahan sosial budaya 32

Melalui pernyataan siswa mampu mendiskripsikan faktor-faktor penghambat perubahan sosial 33

Disajikan gambar siswa mampu menganalisis penyebab perubahan sosial 34

Disajikan Pernyataan siswa mampu menganalisis ciri-ciri globalisasi 35

Siswa mampu menghitung waktu perjalanan menggunakan alat transportasi modern 36

Siswa mampu mendiskripsikan bentuk globalisasi dalam bidang iptek 37

Disajikan Pernyataan siswa mampu mendiskripsikan dampak positif globalisasi 38

Disajikan Pernyataan siswa mampu mendiskripsikan dampak negatif globalisasi 39

Siswa mampu mendiskripsikan pengaruh kebudayaan lain yang menyebabkan perubahan sosial budaya 40

Siswa mampu mendiskripsikan upaya menghadapi globalisasi bidang transportasi 41

Siswa mampu mendiskripsikan upaya menghadapi globalisasi bidang budaya 42

Siswa mampu mendiskripsikan upaya  menghadapi dampak negatif globalisasi 43

Disajikan teks siswa mampu mengidentifikasi keunggulan yang dimiliki wilayah di Indonesia 44

Disajikan data pada table, siswa mampu menjelaskan pengertian dan faktor pendorong perdagangan internasional 45

Disajikan teks siswa mampu menganalisis upaya meningkatkan ekonomi kreatif 46

Siswa mampu menentukan persentase kenaikan PDB dari data pertumbuhan ekonomi 47

Disajikan teks siswa mampu mengidentifikasi tujuan kerja sama ekonomi antarnegara melalui teks 48

Siswa mampu mendeskripsikan dampak pertumbuhan ekonomi indonesia 49

Siswa mampu mengidentifikasi dampak adanya Pasar Bebas (Masyarakat Ekonomi Asia) 50



Silakan download  Kisi kisi LUS dan US IPS kelas IX




Silakan download  Kisi kisi STS  kelas VIII

Terima kasih.

Sabtu, 01 Maret 2025

Ekspedisi Berkah Ramadan: Jejak Masjid Tua di Bumi Sai Batin

 



Mentari pagi di hari kedua Ramadan menyapa Bandar Lampung dengan sinarnya yang lembut. Jam menunjukkan pukul 7:36 WIB, dan kesibukan kota mulai terasa meski bulan puasa. Di tengah hiruk pikuk itu, di sebuah rumah sederhana di kawasan Teluk Betung, Rina memeriksa kembali perlengkapan di dalam ranselnya. Hari ini, bersama tim kecilnya, ia memulai sebuah ekspedisi yang berbeda: menelusuri jejak masjid-masjid tua bersejarah di Lampung selama bulan suci Ramadan.

"Semua siap, Rina?" tanya Pak Hasan, seorang tokoh masyarakat setempat yang juga ikut dalam tim. Beliau adalah sumber pengetahuan utama mereka tentang sejarah dan budaya Lampung.

"Siap, Pak Hasan. Andi sudah memastikan semua peralatan dokumentasi berfungsi, dan Siti sudah menyiapkan bekal sahur dan buka puasa kita," jawab Rina, mengangguk mantap.

Tim ekspedisi ini terdiri dari empat orang: Rina, seorang arsitek muda yang memiliki ketertarikan mendalam pada bangunan-bangunan bersejarah; Pak Hasan, yang berperan sebagai penunjuk jalan dan narasumber utama; Andi, seorang fotografer dan videografer yang bertugas mendokumentasikan setiap langkah perjalanan; dan Siti, seorang mahasiswi sejarah yang bertanggung jawab mencatat setiap informasi dan cerita yang mereka temui.

Ekspedisi ini mereka namakan "Ekspedisi Berkah Ramadan", karena mereka percaya bahwa perjalanan ini tidak hanya akan menambah pengetahuan mereka tentang sejarah Islam di Lampung, tetapi juga akan memberikan berkah dan pengalaman spiritual yang mendalam di bulan suci ini.

Tujuan pertama mereka adalah Masjid Al-Furqon, salah satu masjid tertua di Bandar Lampung yang konon didirikan pada abad ke-19. Setelah menunaikan salat Dhuha di rumah, mereka berangkat menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Andi. Perjalanan menuju Masjid Al-Furqon tidak terlalu jauh, namun suasana Ramadan terasa kental di sepanjang jalan. Banyak warung makan yang tutup, dan lalu lintas pun tampak sedikit lebih lengang dari biasanya.

Sesampainya di Masjid Al-Furqon, mereka disambut oleh pengurus masjid yang ramah. Bangunan masjid tampak sederhana namun kokoh, dengan arsitektur yang memadukan unsur tradisional Lampung dan pengaruh Melayu. Rina dan timnya segera mengeluarkan peralatan mereka dan mulai melakukan observasi. Andi sibuk mengambil foto dan video detail bangunan, sementara Rina membuat sketsa dan catatan arsitektur masjid. Siti mewawancarai salah satu pengurus masjid untuk mendapatkan informasi tentang sejarah dan perkembangan masjid tersebut.

Pak Hasan dengan antusias menceritakan berbagai kisah dan legenda yang berkaitan dengan Masjid Al-Furqon. Konon, masjid ini pernah menjadi tempat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan di masa lalu. Selain itu, terdapat juga sebuah sumur tua di halaman masjid yang airnya dipercaya memiliki khasiat tertentu.

Saat waktu Zuhur tiba, mereka ikut melaksanakan salat berjamaah bersama warga sekitar. Suasana khusyuk terasa begitu mendalam di dalam masjid yang bersejarah ini. Setelah salat, mereka beristirahat sejenak di serambi masjid sambil menikmati bekal kurma dan air putih yang dibawa Siti.

"Sungguh luar biasa masjid ini. Arsitekturnya sederhana, tapi menyimpan banyak cerita," kata Rina, mengagumi detail ukiran kayu di salah satu tiang masjid.

"Benar, Rina. Setiap sudut masjid ini seolah berbisik tentang masa lalu," timpal Pak Hasan.

Andi menunjukkan beberapa foto yang berhasil ia ambil. "Cahaya pagi ini sangat mendukung untuk pengambilan gambar. Detail-detail ukirannya terlihat jelas," ujarnya puas.

Siti mencatat dengan seksama setiap informasi yang didapat dari pengurus masjid. "Ternyata masjid ini sudah beberapa kali mengalami renovasi, tapi tetap mempertahankan bentuk aslinya," katanya.

Setelah beberapa jam berada di Masjid Al-Furqon, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya. Hari masih pagi, dan mereka bersemangat untuk menelusuri lebih banyak lagi jejak sejarah Islam di Lampung.

"Kita akan menuju ke Masjid Jami' Al-Anwar di Teluk Betung Selatan. Masjid itu juga termasuk salah satu masjid tua yang cukup terkenal," kata Pak Hasan, memberikan arahan kepada Andi.

Perjalanan mereka baru saja dimulai. Semangat Ramadan dan rasa ingin tahu yang besar mendorong mereka untuk terus menjelajahi dan mendokumentasikan kekayaan sejarah dan budaya Islam di Bumi Sai Batin. Sesi pertama ekspedisi ini telah memberikan mereka pengalaman yang berharga dan membuka mata mereka akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan leluhur. Mereka berharap, perjalanan ini akan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai sejarah dan budaya bangsa, terutama di bulan suci Ramadan yang penuh berkah ini.


(Sesi 1 Berakhir)

Disclaimer :

(Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.)