Welcome

<< Mulai dengan cerita yang menarik>> << SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA >>

Sabtu, 23 Mei 2026

Ki Ageng Pemanahan & Ki Panjawi: Sahabat seperguruan Jaka Tingkir

 

Ilustrasi : Ki Ageng Pemanahan & Ki Panjawi


Singgasana Sela dan Sumpah Seperguruan

Pada suatu masa ketika tlatah Jawa dibalut oleh kabut peralihan kekuasaan dari Majapahit menuju era Islam, di bawah asuhan ulama legendaris Ki Ageng Sela, tumbuhlah pemuda-pemuda pilihan. Di antara mereka yang menimba ilmu sungsang bawana adalah Jaka Tingkir (yang kelak bergelar Sultan Hadiwijaya), Ki Ageng Pemanahan (Bagus Kacung), dan Ki Panjawi.

Di padepokan Sela, mereka tidak hanya diajarkan cara mengolah raga, meringankan tubuh, atau memainkan jemparing. Lebih dari itu, Ki Ageng Sela menanamkan ilmu kasampurnan—tentang bagaimana membaca tanda-tanda alam, mengendalikan badai di dalam dada, dan mengabdi pada garis takdir.

Pemanahan dan Panjawi bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi:

  • Ki Ageng Pemanahan adalah sosok yang tenang, sedalam samudra, penuh perhitungan sinandi (rahasia), dan memiliki spiritualitas yang mengakar kuat.

  • Ki Panjawi adalah ksatria yang tangkas, tegas, jujur, dan memiliki keberanian laksana banteng ketaton (terluka) dalam medan laga.

Ketika Jaka Tingkir berhasil mendirikan Kesultanan Pajang dan naik takhta menjadi Sultan Hadiwijaya, kedua sahabat seperguruan ini tidak memilih jalan mabal (membangkang). Mereka memilih menjadi pilar kokoh yang menopang singgasana Pajang. Hubungan darah dan batin mereka kian erat ketika putra Pemanahan, Danang Sutawijaya, diadopsi oleh Sultan Hadiwijaya sebagai pancingan momongan, menjadikannya ksatria yang tumbuh di dalam kemewahan keraton namun memiliki darah spiritualitas tinggi.

Sayembara Arya Penangsang dan Pengorbanan di Tepi Bengawan

Ujian terbesar bagi loyalitas dan persaudaraan ini datang ketika bumi Pajang diguncang oleh ambisi Arya Penangsang, Adipati Jipang yang terkenal sakti mandraguna dan menunggangi kuda legendaris, Gagak Rimang. Penangsang menuntut hak atas takhta Demak, dan darah telah tumpah di mana-mana.

Sultan Hadiwijaya berada dalam dilema batin yang hebat karena Penangsang adalah saudara sepupunya. Meredam pergolakan ini, Sultan menggelar sayembara:

"Barangsiapa yang mampu menumpas Arya Penangsang, akan dihadiahi Bumi Pati dan Bumi Mentaok (Mataram)."

Pemanahan dan Panjawi tahu, ini bukan sekadar sayembara berburu hadiah, melainkan panggilan takdir untuk menegakkan kedamaian di tanah Jawa. Namun, karena keterikatan sumpah, mereka tidak maju sendiri secara frontal. Di sinilah Danang Sutawijaya—yang masih muda, tangguh, dan mewarisi darah ksatria—maju sebagai ujung tombak, didampingi oleh siasat brilian sang ayah (Pemanahan) dan keberanian sang paman (Panjawi).

Di dekat aliran Bengawan Solo yang beralih rupa menjadi saksi bisu, siasat dijalankan. Menggunakan taktik memancing emosi Arya Penangsang melalui seekor kuda betina untuk merangsang Gagak Rimang, pertempuran pecah. Dengan tombak pusaka Kyai Pleret di tangan Danang Sutawijaya, usus Arya Penangsang terburai. Sang Adipati Jipang gugur, dan fajar baru di tanah Jawa mulai menyingsing.


Ilustrasi : Sayembara Arya Penangsang dan Pengorbanan di Tepi Bengawan











Pembagian Bumi Pati dan Misteri Hutan Mentaok

Setelah kemenangan besar tersebut, janji harus ditepati. Namun, di sinilah kebijaksanaan dan kerendahan hati diuji.

TokohWilayah HadiahKarakteristik WilayahTakdir Garis Keturunan
Ki PanjawiBumi PatiDaerah yang sudah maju, makmur, subur, dan siap menghasilkan kemakmuran ekonomi.Menurunkan penguasa lokal (Adipati Pati) yang kaya raya.
Ki Ageng PemanahanBumi Mentaok (Mataram)Hutan belantara (Alas Mentaok) yang angker, penuh semak berduri, dan dihuni makhluk halus serta hewan buas.Menurunkan raja-raja agung yang menguasai seluruh tanah Jawa.

Sultan Hadiwijaya sebenarnya sempat menunda penyerahan Bumi Mentaok karena ia mendengar ramalan dari Sunan Giri bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang lebih besar dari Pajang. Namun, atas perantaraan Ki Ageng Juru Martani (saudara ipar Pemanahan yang sangat cerdas), wilayah itu akhirnya diserahkan.

Ki Panjawi dengan suka cita membangun Pati menjadi kadipaten yang gemah ripah loh jinawi. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan dengan keikhlasan seorang resi membawa seluruh keluarganya masuk ke dalam keheningan Alas Mentaok pada tahun 1556.

Bagi orang awam, Pemanahan seperti dibuang atau mendapat bagian yang merugi. Namun bagi seorang spiritualis sejati, Alas Mentaok adalah rahim suci tempat peradaban besar dikandung. Pemanahan melakukan babad alas (pembukaan hutan) bukan hanya dengan kapak dan tenaga, melainkan dengan doa, tirakat, dan laku prihatin yang tidak putus-putus. Tempat itu kemudian dinamakan Pasar Gede (Kotagede).


Danang Sutawijaya dan Fajar Kesultanan Mataram Islam

Ki Ageng Pemanahan wafat pada tahun 1584 sebelum ia melihat pohon yang ditanamnya berbuah manis. Ia dimakamkan di Kotagede, meninggalkan warisan berupa tanah yang mulai hidup dan seorang putra yang spiritualitasnya telah matang ditempa sepi: Danang Sutawijaya.

Sutawijaya, yang memiliki gelar kebesaran Panembahan Senopati Ingalaga Sayidin Panatagama, bukanlah sosok yang puas menjadi bawahan Pajang. Darah kepemimpinan dan wahyu kraton telah turun kepadanya. Sesuai dengan ramalan kuno, Pajang mulai meredup pasca-wafatnya Sultan Hadiwijaya akibat konflik internal.

Senopati menggunakan momentum ini untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Pajang. Melalui serangkaian laku spiritual—termasuk kisah legendaris pertapaannya di Pantai Selatan dan persekutuannya secara simbolis dengan Kanjeng Ratu Kidul—Sutawijaya mengonsolidasikan kekuatan politik dan militer.

Pada tahun 1586, secara resmi berdiri Kesultanan Mataram Islam dengan Kotagede sebagai ibu kotanya. Panembahan Senopati memperluas wilayahnya, menaklukkan daerah-daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk melebur kembali hubungan dengan Pati (yang saat itu dipimpin oleh putra Ki Panjawi, Adipati Pragola, melalui dinamika politik dan perang saudara yang dramatis).

Epilog: Makna di Balik Sejarah

Kisah Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi adalah personifikasi dari filsafat Jawa: "Memayu Hayuning Bawana" (memperindah keindahan dunia) dan "Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti" (keberanian dan kejayaan melebur dalam kasih sayang dan kerendahan hati).

Ki Panjawi mengajarkan kita tentang pemenuhan kewajiban ksatria yang berbuah kemakmuran duniawi yang nyata. Sementara Ki Ageng Pemanahan mengajarkan arti penderitaan dan ketekunan (tirakat). Dari ketenangan seorang ayah yang rela membabat hutan angker demi masa depan, lahir seorang putra, Danang Sutawijaya, yang berhasil menyatukan tanah Jawa di bawah panji Islam.

Dari jalinan keringat di Alas Mentaok itulah, sejarah mencatat lahirnya sebuah imperium yang kelak melahirkan Sultan Agung, membelah diri menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, dan yang gaung kebudayaannya masih kita rasakan hingga detik ini.



1. Sumber Sastra dan Babad Tradisional

  • Babad Tanah Jawi: Karya sastra sejarah berbentuk tembang macapat ini adalah sumber utama yang menceritakan silsilah, persahabatan, hingga perjalanan hidup Jaka Tingkir, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi sejak masa muda. Versi yang paling banyak digunakan sebagai rujukan adalah karya W.L. Olthof.
  • Babad Pajang & Babad Mataram: Naskah-naskah klasik ini merinci peran ketiganya saat menaklukkan Arya Penangsang dan membagi wilayah kekuasaan. 
  • Babad Babad Banyumas: Menyinggung relasi politik antara Jaka Tingkir dan Ki Ageng Pemanahan (serta putranya, Sutawijaya) yang berujung pada dibukanya Hutan Mentaok menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram.
2. Historiografi Modern dan Penelitian Akademik
  • De Graaf dan Pigeaud: Dalam karya mereka seperti Kerajaan Islam Pertama di Jawa, terdapat analisis mendalam mengenai transisi kekuasaan dari Demak ke Pajang dan peran para pembesar seperti Ki Ageng Pemanahan.
  • Buku-Buku Sejarah Lokal: Referensi seperti buku Kotagede oleh Djoko Soekiman mengupas tuntas riwayat pembukaan wilayah Mataram oleh Ki Ageng Pemanahan. 
3. Tinggalan Sejarah dan Bukti Fisik
  • Kompleks Makam Kotagede (Hastana Kitha Ageng): Bukti fisik keberadaan tokoh ini dapat dilihat dari makam Ki Ageng Pemanahan yang terletak di kompleks pemakaman Raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta.
  • Situs Makam Ki Ageng Panjawi: Sementara itu, makam Ki Panjawi diyakini berada di daerah Pati (tempat ia menjabat sebagai Adipati Pati).

Tidak ada komentar: