Welcome

<< Mulai dengan cerita yang menarik>> << SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA >>

Kamis, 27 Agustus 2026

Agit AB: Kearifan Lokal

 https://www.youtube.com/watch?v=tJiXFyYPnvM


 

Idendtitas

Nama Guru

:

Aprizal

Mata Pelajaran

:

Ilmu Pengetahuan Sosial

Hari/Tanggal

:

Kamis, 27 Agustus 2026

Fase/Kelas

:

D / 9AB

Judul Materi

:

Kearifan Lokal

Pertemuan ke -

:

13

 

Capaian Pembelajaran

:

Pada akhir Fase D, Peserta didik mampu mengeksplorasi ragam kearifan lokal di Indonesia sebagai benteng pertahanan budaya dalam menghadapi arus globalisasi..

Tujuan Pembelajaran

:

Peserta didik dapat merekonstruksi potensi kearifan lokal daerah sebagai strategi kontekstual (*local wisdom*) untuk menyaring infiltrasi budaya asing.

ü Mindfull (Berkesadaran)

:

Peserta didik mampu menyadari dan mengamati secara kritis berbagai bentuk infiltrasi atau masuknya budaya asing di lingkungan sekitar, serta merefleksikan posisi dan pentingnya nilai-nilai kearifan lokal daerah mereka sebagai identitas diri.

ü Meaningfull (Bermakna)

:

Peserta didik mampu menghubungkan dan merekonstruksi potensi kearifan lokal daerah menjadi strategi kontekstual yang aplikatif dan fungsional untuk menyaring, menyerap, serta menyikapi pengaruh budaya asing secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.

ü Joyful

(Menyenangkan)

:

Peserta didik terlibat secara aktif, antusias, dan kreatif melalui pengalaman belajar berbasis penemuan atau proyek interaktif (seperti pembuatan media digital, kampanye budaya, atau pertunjukan seni) dalam mengeksplorasi dan melestarikan kearifan lokal.

AlurnTujuan Pembelajaran

:

Eksplorasi dan Identifikasi

:

Peserta didik diajak untuk mengenali dan menggali data terkait objek budaya lokal serta fenomena budaya luar..

Analisis dan Kontekstualisasi

:

Peserta didik mulai menghubungkan antara nilai kearifan lokal dengan tantangan budaya asing, serta menganalisis dampaknya.

Sintesis dan Rekonstruksi

:

Peserta didik mengolah kembali konsep kearifan lokal agar relevan dengan zaman modern sebagai alat penyaring.

 

 

  


MATERI

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

 

"Anak-anakku, sebelum kita membahas globalisasi, mari kita renungi:

·         Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah zat yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk manusia dengan segala akal budinya. Dari akal dan kreativitas ciptaan Allah inilah lahir berbagai kebudayaan dan kearifan lokal di tengah masyarakat.

·         Al-Malik (Maha Memelihara): Allah SWT adalah penguasa mutlak yang mengatur alam raya. Sebagai bentuk penjagaan atas kekuasaan-Nya, Dia menanamkan sifat tanggung jawab kepada manusia untuk menjadi penjaga (khalifah) yang memelihara keseimbangan alam.

·         Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah SWT yang mengatur segala sumber penghidupan manusia. Rezeki tidak hanya berupa materi, tetapi juga kelestarian alam, air, tanah yang subur, dan hasil bumi yang dikelola oleh manusia melalui kearifan lokal mereka."

 

Secara sederhana, kearifan lokal (local wisdom) adalah pandangan hidup, ilmu pengetahuan, serta berbagai bentuk strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka.

Kearifan lokal lahir dan berkembang secara turun-temurun di dalam masyarakat tertentu melalui proses interaksi yang erat dengan alam dan lingkungan sekitar. Nilai-nilai ini diwariskan dari generasi ke generasi sehingga menjadi identitas budaya masyarakat tersebut.

Kearifan lokal bukan sekadar tradisi masa lalu yang usang, melainkan strategi hidup yang sangat relevan hingga hari ini. Berikut adalah peran utamanya dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat:

  • Sebagai Konservasi dan Pelestarian Alam: Banyak kearifan lokal yang mengatur bagaimana manusia harus memperlakukan alam secara bijak sebagai wujud syukur atas rezeki dari Ar-Razzaq, seperti larangan menebang pohon di hutan tertentu (hutan larangan/adat) atau menjaga kelestarian sumber air.
  • Pengembangan Sumber Daya Manusia: Nilai-nilai gotong royong, etos kerja, kejujuran, dan solidaritas sosial yang terkandung dalam budaya lokal membentuk karakter masyarakat yang tangguh dalam mengemban amanah sebagai bagian dari ciptaan Al-Khaliq.

·         Pengembangan Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan: Kearifan lokal merupakan laboratorium pengetahuan tradisional yang kaya, mulai dari sistem pengobatan herbal hingga teknik pertanian ramah lingkungan.

·         Sebagai Petuah, Kepercayaan, dan Pantangan: Berfungsi sebagai sistem pengendali sosial (social control) agar warga masyarakat tetap hidup selaras dan harmonis di bawah aturan kekuasaan Allah SWT Yang Maha Mengatur (Al-Malik).

 

Bentuk-Bentuk Kearifan Lokal di Indonesia https://www.youtube.com/watch?v=t1sgDqOZr9c

Indonesia kaya akan beragam bentuk kearifan lokal yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bentuk-bentuk tersebut umumnya terbagi menjadi dua kategori:

1. Berwujud Nyata (Tangible):

  • Arsitektur Tradisional: Contohnya Rumah Gadang (Minangkabau) atau Joglo (Jawa) yang dirancang tahan gempa dan menyesuaikan kondisi iklim tropis. https://www.youtube.com/watch?v=PyivnZyxCAQ 
  • Teknologi Tradisional: Sistem Subak di Bali untuk mengatur irigasi persawahan secara adil berbasis keagamaan dan ekologi.
  • Tekstil dan Seni: Kain Tenun dan Batik dengan filosofi corak yang mendalam tentang kehidupan.

2. Berwujud Tidak Nyata (Intangible):

  • Nasihat, Nyanyian, dan Semboyan: Pepatah adat seperti "Siri' na Pacce" di Sulawesi Selatan yang mengajarkan harga diri dan kepedulian sosial.
  • Tata Cara Adat dan Hukum Adat: Aturan sasi di Maluku dan Papua untuk melindungi hasil laut atau hutan agar tidak dieksploitasi secara berlebihan.

 

ASSESSMENT   (Jawabn soal ini di kolom komentar )

 

1.      Sistem Subak di Bali dan Aturan Sasi di Maluku/Papua merupakan dua contoh kearifan lokal yang memiliki fungsi strategis dalam kehidupan masyarakat. Menurut analisis Anda, nilai-nilai universal apa saja yang dapat dipetik dari kedua praktik tersebut agar dapat diterapkan dalam menjaga keharmonisan sosial dan ekologi saat ini?

 

 

KESIMPULAN MATERI

  Kearifan lokal adalah kekayaan luhur bangsa yang memadukan pengetahuan lokal, nilai moral, dan pelestarian lingkungan.

  Sebagai generasi muda, menjaga dan melestarikan kearifan lokal berarti merawat identitas sekaligus menjaga keberlanjutan bumi kita.

 

KESIMPULAN HASIL PEMBELAJARAN

Kompetensi yang sudah dikuasai dan yang perlu ditingkatkan:

  • Kompetensi yang Sudah Dikuasai: Peserta didik telah menguasai kemampuan mengidentifikasi dan merumuskan nilai-nilai universal (seperti gotong royong, keadilan distributif, tanggung jawab, kedisiplinan, dan keseimbangan ekologis) yang terkandung dalam kearifan lokal Nusantara, khususnya studi kasus Sistem Subak di Bali dan Aturan Sasi di Maluku/Papua. Peserta didik juga mampu menghubungkan praktik tradisional tersebut dengan upaya menjaga keharmonisan sosial dan pelestarian lingkungan saat ini.

  • Kompetensi yang Perlu Ditingkatkan: Sebagian kecil peserta didik masih perlu didorong untuk memperluas analisis kritisnya, tidak hanya berhenti pada penyebutan nilai-nilai universal, tetapi juga merumuskan langkah implementasi konkret atau solusi operasional yang aplikatif dalam menghadapi tantangan krisis lingkungan modern di tingkat komunitas yang lebih luas.

2) Kesimpulan berupa tingkat pemahaman konsep, hafalan, analisis, hingga evaluasi materi pelajaran:

  • Tingkat Pemahaman Konsep: Sangat baik. Peserta didik mampu memahami definisi, esensi, serta bentuk nyata maupun tidak nyata dari kearifan lokal di Indonesia.

  • Tingkat Hafalan: Cukup kuat, terlihat dari kemampuan peserta didik mengingat dan menyebutkan contoh-contoh spesifik kearifan lokal (seperti Subak dan Sasi) beserta fungsi dasarnya.

  • Tingkat Analisis & Evaluasi: Berkembang dengan sangat memuaskan. Hal ini tercermin dari kemampuan peserta didik dalam menguraikan hubungan sebab-akibat antara aturan adat dan kelestarian ekosistem, serta mengevaluasi relevansi nilai leluhur dalam menjawab persoalan sosial-ekologis masa kini secara logis dan terstruktur.

3) Diamati selama proses pembelajaran berlangsung di kelas:

  • Berdasarkan pengamatan langsung di kelas, peserta didik menunjukkan tingkat keterlibatan (engagement) dan antusiasme yang tinggi dalam menyerap materi serta menuangkan gagasan mereka ke ruang komentar digital.

  • Suasana belajar berlangsung aktif, kooperatif, dan komunikatif, di mana peserta didik mampu merefleksikan materi pembelajaran secara mandiri serta saling memperkaya pemahaman melalui variasi sudut pandang dalam menganalisis kearifan lokal bangsa.




28 komentar:

carissa mengatakan...

Carissa Ramadhani (9A)

jawabannya :
Nilai universal yang dapat dipetik dari Subak dan Sasi adalah gotong royong, keadilan, tanggung jawab, kedisiplinan, kepatuhan terhadap aturan, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Kedua praktik tersebut mengajarkan masyarakat untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana, tidak berlebihan, dan mempertimbangkan kepentingan generasi mendatang. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, keharmonisan antara manusia, masyarakat, dan alam dapat tetap terjaga.

Flavio Aufaa Mahdani mengatakan...

Flavio aufaa m (9A)

Nilai universal dari Subak dan Sasi adalah gotong royong, tanggung jawab, disiplin, dan menjaga kelestarian alam. Keduanya mengajarkan pentingnya menaati aturan bersama dan menggunakan sumber daya alam secara bijak. Nilai tersebut dapat diterapkan dengan menjaga lingkungan dan bekerja sama demi keharmonisan masyarakat.

Anonim mengatakan...

Geleghar Prima Ahmadi (9A)

Jawaban Saya:
Nilai Universal yg bisa dipetik dari Sistem Subak di Bali dan Aturan Sasi di Maluku/Papua ada:
1. Berbagi sumber daya secara merata tanpa memandang status orang tersebut
2. Tanggung jawab dan kedisiplinan
3. Gotong royong menyelesaikan masalah lingkungan

eto mengatakan...

eto anesta (9A)

jawabnya
Nilai universal yang dapat diambil yaitu kebersamaan, kepedulian, disiplin, dan menghargai aturan. Subak mengajarkan pentingnya bekerja sama dan berbagi secara adil, sedangkan Sasi mengajarkan kedisiplinan dalam menjaga sumber daya alam. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dengan menaati aturan, saling membantu, dan menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

elos 8a mengatakan...

m.rubby rielos pratama 9a
jawaban:
Sistem Subak dan Aturan Sasi memuat nilai-nilai universal seperti ekosentrisme (keharmonisnan antara manusia dan alam), keadilan distributif, kolektivisme melalui gotong royong, serta pengendalian diri, yang dapat diterapkan saat ini dengan cara mengadopsi mekanisme pembagian sumber daya yang adil untuk mencegah konflik sosial, menerapkan moratorium musiman pada eksploitasi alam guna memberi ruang regenerasi ekosistem, serta menguatkan tata kelola lingkungan berbasis partisipasi aktif masyarakat.

khalilah mengatakan...

Khalilah Siti Khairunnisa (9A)
jawaban:
Sistem Subak di Bali dan Aturan Sasi di Maluku/Papua sama-sama mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, masyarakat, dan alam. Nilai universal yang dapat diterapkan adalah gotong royong, tanggung jawab, disiplin, kepedulian terhadap lingkungan, serta menghormati aturan dan kesepakatan bersama.

nisa mengatakan...

nilai universal yg dapat dipetik dari sistem subak di bali dan aturan sasi di Maluku/papua adalah nilai keadilan, tanggung jawab moral, dan keberlanjutan lingkungan. kedua praktik ini dapat diterapkan dalam menjaga keharmonisan sosial dan ekologi saat ini melalui pembagian sumber daya alam secara adil dan merata untuk mencegah konflik sosial

Puncak Iffat Altamis mengatakan...

Puncak Iffat Altamis 9A

Melalui Subak dan Sasi, terdapat nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, kedisiplinan, serta rasa hormat terhadap norma yang berlaku. Subak mencerminkan pembagian yang adil dan kolaborasi, lalu Sasi membentuk karakter yang berdisiplin dalam merawat ekosistem. Nilai-nilai ini sangat relevan diterapkan dengan cara mematuhi aturan setempat, peduli pada lingkungan, dan saling bersinergi.

Mutiara septi irawan mengatakan...

Mutiara Septi Irawan 9B

Nilai universal utama dari sistem Subak dan Sasi adalah prinsip keseimbangan ekologis, gotong royong kolektif, dan pengelolaan sumber daya secara partisipatif untuk menjaga kelestarian alam serta keadilan sosial.

Anonim mengatakan...

PANGERAN JAGAD RAYA 9 B



Jawaban Saya Adalah Nilai universal utama dari sistem Subak dan Sasi adalah prinsip keseimbangan ekologi dan keadilan sosial yang berakar dari gotong royong serta rasa hormat terhadap alam.Kedua kearifan lokal ini mengajarkan cara hidup selaras dengan alam dan sesama manusia

Raisa Latifa Aurelia mengatakan...

Raisa Latifa Aurelia 9B

jawaban:
Nilai-nilai universal yang dapat dipetik dari Sistem Subak di Bali dan Aturan Sasi di Maluku/Papua adalah gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, keadilan, tanggung jawab, kedisiplinan, dan keseimbangan antara manusia dengan alam. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan saat ini dengan bekerja sama dalam menjaga lingkungan, menggunakan sumber daya alam secara bijak, serta mematuhi aturan demi kepentingan bersama.

Anonim mengatakan...


Nilai universal yang dapat dipetik dari Sistem Subak dan Aturan Sasi adalah gotong royong, keadilan, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Nilai-nilai ini penting diterapkan saat ini agar tercipta keharmonisan sosial antar masyarakat dan kelestarian ekologi agar alam tetap terjaga.
Nama: Muhammad Rafi Akbar 9B

Dante mengatakan...

M. Alfathama Dante Saputra 9B

Jawabannya

Subak dan Sasi mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan alam. Nilai yang dapat diterapkan adalah kerja sama, disiplin, tanggung jawab, menghargai aturan, serta menjaga kelestarian lingkungan. Dengan menerapkan nilai tersebut, masyarakat dapat hidup rukun sekaligus menjaga alam agar tetap lestari untuk generasi berikutnya

Nada Qaribu Anshori mengatakan...

Nada Qaribu Anshori 9B

Jawaban :
Subak dan Sasi mengajarkan bahwa keharmonisan sosial dan ekologi dapat tercapai melalui kerja sama, keadilan, kepatuhan terhadap aturan, serta pemanfaatan alam secara bijaksana dan berkelanjutan.

Masayu Soraya mengatakan...

Masayu Soraya Janeeta 9B

Jawaban : Nilai universal yang dapat diterapkan dari Sistem Subak di Bali dan Aturan Sasi di Maluku/Papua adalah gotong royong, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Subak mengajarkan masyarakat untuk bekerja sama dalam mengatur pembagian air (pengaturan irigasi) secara adil, sedangkan Sasi mengajarkan pembatasan pemanfaatan sumber daya alam agar dapat berkembang kembali. Kedua praktik tersebut menunjukkan bahwa sumber daya alam harus digunakan secara bijaksana dan berkelanjutan demi menjaga keharmonisan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Anonim mengatakan...

Nilai universal yang dapat dipetik dari Subak dan Sasi adalah gotong royong, keadilan, tanggung jawab, kedisiplinan, kepatuhan terhadap aturan, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Kedua praktik tersebut mengajarkan masyarakat untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana, tidak berlebihan, dan mempertimbangkan kepentingan generasi mendatang. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, keharmonisan antara manusia, masyarakat, dan alam dapat tetap terjaga.

Ghaisan mengatakan...

M ghaisan abqory 9B

Jawaban:Subak dan Sasi mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan alam. Nilai yang dapat diterapkan adalah kerja sama, disiplin, tanggung jawab, menghargai aturan, serta menjaga kelestarian lingkungan. Dengan menerapkan nilai tersebut, masyarakat dapat hidup rukun sekaligus menjaga alam agar tetap lestari untuk generasi berikutnya

Ollaaaaliw (zivana azolla) mengatakan...

Zivana Azolla (9A)
Nilai universal yang dapat dipetik dari sistem Subak di Bali dan aturan Sasi di Maluku/Papua adalah gotong royong, kebersamaan, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Kedua kearifan lokal tersebut mengajarkan masyarakat untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana dan tidak berlebihan. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan saat ini dengan menjaga kelestarian lingkungan, menggunakan sumber daya secara hemat, menghormati aturan bersama, serta bekerja sama untuk menciptakan kehidupan sosial dan ekologi yang harmonis.

Niken mengatakan...

Nilai-nilai universal yang dapat dipetik adalah gotong royong dan kebersamaan, menjaga keseimbangan alam, keadilan dan pemerataan, kedisiplinan dan tanggung jawab, serta menghormati kearifan lokal. Nilai-Nilai tersebut dapat diterapkan untuk menghadapi masalah lingkungan dan sosial saat ini.

M.Kenzie 9B mengatakan...

Subak dan Sasi mengajarkan pentingnya gotong royong, menaati aturan, dan menjaga keseimbangan dengan alam. Nilai-nilai tersebut masih bisa diterapkan sekarang agar kehidupan masyarakat tetap harmonis dan lingkungan tetap terjaga.

Nabila Eka Septiani mengatakan...

Nabila Eka Septiani 9b

jawaban:
Nilai-nilai universal yang dapat dipetik dari Sistem Subak di Bali dan Aturan Sasi di Maluku/Papua adalah gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, keadilan, tanggung jawab, kedisiplinan, dan keseimbangan antara manusia dengan alam. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan saat ini dengan bekerja sama dalam menjaga lingkungan, menggunakan sumber daya alam secara bijak, serta mematuhi aturan demi kepentingan bersama.

Anonim mengatakan...

Nama:Gustiawan kusumajaya

Nilai Universal yg bisa dipetik dari Sistem Subak di Bali dan Aturan Sasi di Maluku/Papua ada:
1. Berbagi sumber daya secara merata tanpa memandang status orang tersebut
2. Tanggung jawab dan kedisiplinan
3. Gotong royong menyelesaikan masalah lingkungan

M. Rayyan 9B mengatakan...

Sistem Subak & Sasi: Mengajarkan keadilan, kerja sama, dan perlindungan alam dari eksploitasi berlebihan.
​Nilai Universal: Pelestarian lingkungan, gotong royong, dan pengendalian sosial yang harmonis.

Lingga Argani Al-Husein mengatakan...

Nama: Lingga argani alhusein 9A

Kearifan lokal adalah pengetahuan, nilai, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas suatu masyarakat. Kearifan lokal memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian alam, membangun karakter masyarakat, mengembangkan budaya dan pengetahuan, serta menjaga keharmonisan sosial. Contohnya adalah Sistem Subak di Bali yang mengatur irigasi secara adil dan Sasi di Maluku/Papua yang membatasi pemanfaatan sumber daya alam agar tidak berlebihan.

cinnscl mengatakan...

cinta nuria 9A
jawaban :
Nilai-nilai universal yang dapat dipetik dari sistem Subak di Bali (kearifan lokal berwujud nyata) dan Aturan Sasi di Maluku/Papua (kearifan lokal berwujud tidak nyata)​Keadilan dan Kesetaraan (Distribusi Sumber Daya): Subak mengajarkan pentingnya pembagian air secara adil dan transparan antar-petani tanpa membedakan luas lahan, menghindarkan konflik sosial.

Lingga Argani Al-Husein mengatakan...

nama : syabian ananda istikmal
kelas : 9A
kesimpulan : Kearifan lokal merupakan nilai dan tradisi yang diwariskan turun-temurun untuk menjaga budaya, kehidupan sosial, dan kelestarian alam. Contohnya Subak di Bali dan Sasi di Maluku/Papua. Oleh karena itu, kearifan lokal perlu dilestarikan agar budaya tetap terjaga dan lingkungan tetap lestari

putri nabila sari mengatakan...

Putri Nabila sari 9b
jawaban:Nilai universal utama dari sistem Subak dan aturan Sasi adalah prinsip keseimbangan ekologis, keadilan sosial, dan gotong royong berbasis musyawarah untuk menjaga kelestarian alam dan kehidupan bersama.

Navara Azka mengatakan...

navara Azka Wijayanyo(9b)
Dari Subak dan Sasi, kita bisa memetik nilai universal berupa keadilan berbagi sumber daya, solidaritas komunal, pengendalian diri, dan tanggung jawab ekologis. Keduanya menunjukkan bahwa kelestarian alam paling kuat ketika didukung oleh aturan sosial yang disepakati bersama dan dihormati sebagai bagian dari etika hidup.