Pagi hari keempat di Madinah, udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Angin membawa aroma lembut kota nabi, seolah mengajak para tamu Allah untuk memulai hari dengan hati yang lapang. Patih Ijal bangun lebih awal, berwudu, lalu berjalan menuju Masjid Nabawi untuk salat Subuh.
Ketika imam mengucapkan salam, Patih Ijal menatap kerumunan jamaah dengan rasa syukur. Ia merasa seakan hatinya pernah tinggal di kota ini sejak lama, meski baru beberapa hari ia hadir secara fisik.
Ziarah ke Makam Baqi’: Taman Para Syuhada
Usai Subuh, rombongan bergerak menuju Jannatul Baqi’, kompleks pemakaman para sahabat, keluarga Nabi, dan orang-orang saleh.
Gerbang Baqi' terbuka perlahan, menampilkan hamparan makam sederhana tanpa bangunan mewah. Hanya batu-batu kecil sebagai penanda. Kesederhanaan itu justru menampar kesadaran Patih Ijal — bahwa kemuliaan seseorang bukan pada tanda kuburannya, tetapi pada amal kehidupannya.
Pembimbing rombongan bercerita lembut:
“Di sinilah putri Rasulullah, Sayyidah Fatimah, para istri Nabi, serta ribuan sahabat dimakamkan.
Mereka bukan sekadar nama, tetapi cahaya Islam yang sampai kepada kita.”
Patih Ijal berdiri dalam diam. Ia membayangkan para sahabat yang berjuang tanpa pamrih demi agama yang kini ia rasakan manisnya.
Dengan suara bergetar, ia berdoa:
“Ya Allah… masukkan kami dalam golongan orang-orang saleh.
Jadikan hati ini lembut seperti hati para sahabat.”
Ada rasa kecil yang menyelinap, tetapi juga rasa ingin menjadi hamba yang lebih baik.
Jabal Uhud: Gunung yang Mencintai Umat Islam
Rombongan lalu menuju Jabal Uhud, tempat terjadinya perang besar antara kaum Muslim dan musuh-musuh Islam. Dari kejauhan, gunung itu tampak kokoh dan seakan memanggil.
Ketika turun dari bus, Patih Ijal merasakan hembusan angin yang membawa aroma tanah merah Uhud. Pemandu bercerita tentang perjuangan para sahabat, tentang Hamzah bin Abdul Muthalib — singa Allah — yang gugur dengan syahid di tempat itu.
Di depan makam para syuhada, Patih Ijal terdiam. Ia seperti melihat bayangan para pejuang yang berdiri demi kebenaran.
“Gunung Uhud ini mencintai kita,” kata pembimbing, mengulang hadis Nabi,
“dan kita pun mencintainya.”
Patih Ijal merinding. Tidak pernah dalam hidupnya ia merasakan kedekatan dengan sejarah sedalam ini. Ia menatap langit di atas Jabal Uhud yang membiru.
“Jika mereka berjuang dengan fisik, aku harus berjuang dengan akhlak,”
gumamnya lirih.
Masjid Quba: Masjid Pertama dalam Islam
Perjalanan berlanjut menuju Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad ﷺ. Masjid ini belum sebesar Masjid Nabawi, tapi punya keistimewaan besar: salat di dalamnya setara pahala umrah, jika dilakukan dengan niat ikhlas.
Bangunannya putih bersih, memantulkan sinar matahari pagi seperti rumah cahaya.
Patih Ijal memasuki masjid dengan perasaan lembut. Ia mengambil tempat di saf tengah. Salat dua rakaat ia lakukan dengan penuh ketenangan. Di rakaat terakhir, ia menahan tangis — seperti ada tangan tak terlihat yang mengusap hatinya.
“Ya Allah, jadikan rumah ini rumah Cahaya bagiku…
tempat aku memperbaiki diri ketika kembali nanti.”
Ketika keluar, Patih Ijal memandangi masjid itu lama, seakan tak ingin pergi.
Perjalanan ke Lokasi Bersejarah: Sumur Aris, Masjid Qiblatain, dan Kebun Kurma
1. Sumur Aris (Bi’r Aris)
Rombongan berhenti di sumur tua yang pernah menjadi tempat Nabi duduk dan mencelupkan cincin beliau. Sumur ini saksi kejadian ketika cincin Nabi hilang, tanda bahwa fase-fase kepemimpinan akan berubah.
Patih Ijal menyentuh dinding pagar sumur itu.
“Seandainya dinding ini bisa bercerita,” katanya dalam hati,
“pasti ia mengisahkan banyak keindahan ajaran Nabi.”
2. Masjid Qiblatain
Di masjid ini, perintah perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah turun. Patih Ijal merasa tak percaya sedang berdiri di tempat keluarnya perintah besar dalam sejarah salat umat Islam.
“Inilah masjid yang mengajarkan bahwa perubahan adalah bagian dari ketaatan.”
Ia termenung sejenak, menyadari bahwa manusia harus siap berubah menjadi lebih baik.
3. Kebun Kurma
Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke kebun kurma. Pepohonan tinggi berdaun hijau kelabu berdiri di bawah matahari Madinah yang lembut.
Patih Ijal duduk di bawah sebuah pohon, mencicipi kurma ajwa yang manis namun tidak berlebihan.
“Beginilah rasa manis yang diberkahi,” pikirnya.
“Manis yang menenangkan, bukan melalaikan.”
Ia membeli beberapa bungkus untuk dibawa pulang — buah tangan untuk Eva, Krisn, Kekey, Adit, dan kedua orang tua. Ia ingin mereka merasakan sedikit dari kedamaian Madinah yang ia alami.
Malam Hari ke-4: Renungan di Pelataran Nabawi
Malam itu, Patih Ijal kembali duduk di halaman Masjid Nabawi. Angin Madinah berembus lembut, seolah membisikkan doa-doa tak terdengar.
Ia menulis pesan pada keluarganya:
“Hari ini Abi belajar tentang perjuangan, keteguhan, dan kesederhanaan.
Dari Baqi’, Uhud, Quba, sampai sumur Nabi… semua mengajarkan arti hidup.
Nabi kita hidup sederhana, tapi meninggalkan pengaruh besar.
Semoga Abi pulang menjadi pribadi yang lebih sabar dan rendah hati.”
Eva membalas:
“Kami menunggu Abi pulang dengan hati yang baru.
Semoga semua pelajaran itu menetap dalam jiwa Abi.”
Patih Ijal menatap bintang-bintang di atas Masjid Nabawi.
Ia tahu perjalanan ini telah mengisi hatinya dengan cahaya.
Nilai Literasi dan Pesan Moral Hari Ke-4
-
Baqi’ mengajarkan bahwa kemuliaan sejati ada pada amal, bukan pada tanda kuburan.
-
Uhud mengajarkan keberanian, kesetiaan, dan cinta yang tidak pernah padam.
-
Masjid Quba mengingatkan bahwa keikhlasan adalah dasar segala amal.
-
Masjid Qiblatain mengajarkan bahwa perubahan menuju kebaikan adalah bagian dari iman.
-
Kota Madinah adalah sekolah cinta — tempat setiap langkah menjadi pelajaran.
Disclaimer :
(Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar